Bicara Musik

Ulasan Primal Decay: Bandung Thrash Metal Compilation
  • By : admin
  • 15 March 2020

Ulasan Primal Decay: Bandung Thrash Metal Compilation

Bicaramusik.id- Thrash metal merupakan salah satu genre tertua di Indonesia. Perjalanannya telah melewati berbagai generasi, mulai dari pionir sekelas Suckerhead hingga Rudal di era “8-0an. Wajahnya terus berganti seiring perkembangan industri musik dunia, di era 2000-an, genre bertuhan Slayer dan Sepultura ini terus melahirkan sejumlah variasi yang mengakar ke satu akar, yakni tentu thrash metal. Hari ini, kita bisa menjumpai berbagai band thrash segar dari era second wave seperti The Cruel hingga generasi termuda seperti Kras.

Membicarakan musik yang lekat dengan dunia underground tersebut tidak mungkin lepas dari kancah terbesarnya dalam negeri yang mengerucut di Kota Bandung. Era “90-an merupakan masa terbaik thrash metal sebagai tren yang berhasil menyusup ke jiwa-jiwa muda mojang mau pun jajaka Parahyangan. Meski pun tren musik grunge mulai menjamur di akhir “90-an dan menggerus masa kejayaan kultus tersebut, api thrash metal nampak tak pernah padam di Kota Kembang.

Thrash metal Bandung kian berkali beregenerasi, bahkan terus menyeruak ke kota-kota sekilingnya. Kota ini menjadi induk gencatan musik cepat, lugas nan agresif tapi gak melulu sangar tersebut. Menyebar ke berbagai kelompok dengan gaya khasnya masing-masing, dari thrash bernuansa Eropa, Latin, hingga yang kental dengan gaya khas tanah kelahiran Metallica yang juga mengandung sejumlah variasi lainnya.

Pada 7 Februari lalu, sebuah label rekaman lokal asal Bandung, Grimloc Records – besutan Herry ‘Ucok’ Sutresna (Homicide, Morgue Vanguard) dan kawan-kawan – mendokumentasikan sejumlah band thrash asal Bandung yang dirilis dalam sebuah album kompilasi. Sebuah album bertajuk Primal Decay: Bandung Thrash Metal Compilation ini diperkuat oleh 14 band thrash lokal dari era second wave hingga yang termuda. Album kompilasi yang digagas oleh Bucek (The Cruel, Mesin Tempur, Muertos) ini menjadi rilisan Grimloc Records yang ke-48  dan menunjukkan konsistensi label rekaman tersebut dalam mendorong perkembangan kancah musik lokal.

“Kami di Grimloc mencoba mendokumentasikan geliat ini ke dalam sebuah kompilasi,” catat Grimloc Records dalam salah satu unggahan akun Instragramnya menyambut diluncurkannya album kompilasi thrash metal Bandung tersebut. “Mencatat semangat kolektif, dinamika skena, dan segala hal yang beririsan di dalamnya”.

Grimloc mencatat bahwa 14 band dalam kompilasi ini bukan perwakilan dari kancah musik thrash metal Bandung hari ini. Kompilasi ini juga bukan sebuah nostalgia, karena thrash metal di Bandung tak pernah benar-benar tergerus tren lainnya. Atau pun sekadar dokumentasi, namun sebuah perjuangan kecil untuk memupuk semangat kolektif dari berbagai segi, baik ekonomi mau pun dinamika regenerasi.

Fisik album ini tidak begitu spesial, dikemas dalam sebuah jewel case biasa dengan sampul yang jadi satu dengan lembaran lirik dan sedikit profil dari masing-masing band. Cover album yang digambar oleh seniman lokal Danu Bharata yang kemudian ditata ulang oleh Ucok sendiri, kemudian disempurnakan oleh Hamzah Kusbiyanton. Primal Decay juga jadi salah satu rilisan Grimloc yang tidak memakai foto untuk sampul utamanya.

Hal yang cukup mencolok dan disayangkan dari isi album kompilasi ini adalah bagaimana proses dan hasil produksi perlagu yang terdengar belang. Beberapa lagu malah memiliki kualitas suara yang sangat buruk, membuat album kompilasi ini gagal menyajikan kemasan suara yang megah sepenuhnya.

Nampaknya, anak-anak thrash Bandung punya pekerjaan rumah jika lain waktu merilis lagi kompilasi lainnya. Pertimbangan hasil mixing dari masing-masing lagu dan hasil mastering secara keseluruhan album patut lebih diperhitungkan. Bukan sebuah dokumentasi yang indah, jika album kompilasi bernilai hebat harus disandingi dengan sound abal-abal.

Lalu, bagaimana dengan masing-masing lagu dalam album kompilasi ini? Mari kita bahas beberapa lagu yang paling menonjol di antara yang lainnya dan bakal membuat pendengar merasa betul-betul di tengah mosh pit dan neraka.

Di trek pertama, Walker membuka kompilasi ini dengan sebuah lagu bertajuk “Bandung Thrash Zone”. Sejak detik-detik awal, kita langsung disambut dengan build up khas thrash yang membuat pendengar merasa siap-siap memasuki sebuah medan perang. Gemuruh dentum drum cepat dan suara bas mid tone sambil diiringi sedikit gaya heavy metal ala Motorhead yang masuk secara bergiliran jadi pilihan tepat dilancangkan pada intro. Pendengar akan tahu jelas ini sebuah lagu thrash dengan sedikit gitar  harmonic melengking saat lagu mulai merusuh sebelum masuk bait vokal pertama.

Lagu ini sangat cocok ditaruh di awal album, terutama judul yang sangat menggambarkan keseluruhan isi kompilasi tersebut. Dengan suara gitar kering ala “90-an, sedikit groove Pantera, dan melody berruntun dari dua gitar yang diset kiri-kanan cukup memuaskan harapan seberapa thrash album tersebut. Namun, di Walker tidak begitu banyak eksplorasi untuk menggambarkan judul di segi lirik, pemilihan diksi Bahasa Inggris yang digunakan pun masih tergolong standar.

Setelah lagu pertama selesai, pendengar diajak lagi gila-gilaan lewat lagu “Bulletproof” dari The Cruel. Trek kedua ini muncul sebagai penanda bahwa ini memang sebuah album thrash metal. Salah satu raksasa thrash metal Bandung ini memang selalu muncul sebagai patokan dasar thrash Kota Kembang. Meski pun begitu, intro lagu ini bisa jadi agak mirip lagu pembuka anime Naruto musim pertama bagi beberapa pendengar.

Setelah itu, pendengar diajak langsung jalan-jalan lebih jauh ke dunia yang lebih gelap oleh Werewolf dengan lagu “Moon Of Death”. Sejak awal lagu, trek ketiga ini tidak tanggung-tanggung memunculkan gaya thrash benua biru, seperti Kreator dan kawan-lawan. Poin terkeren di lagu Werewolf ini adalah vokal serang dan lugas Dwey yang merdu untuk ukuran musik macam ini.

Salah satu lagu menarik lainnya muncul di trek keenam, sebuah unit grindcore yang lekat dengan musik thrash K.T.S.D. dengan lagu bertajuk “Senggol Bacok” berdurasi 33 detik saja. Gaya vokal teriak menolak santai dengan bait-bait lirik pendek dan instrumen yang digeber sejak awal hingga akhir lagu membuat pendengar seperti di tengah-tengah kerusuhan mosh pit. Lagu ini cukup menggambarkan seberapa angkuh gelagat thrash metal seharusnya.

Sebuah unit thrash lokal termuda Kepal juga ikut berpartisipasi mengisi peluru dalam senapan berama Primal Decay ini. Sebuah lagu bertajuk “Si Preman” menceritakan premanisme di kehidupan urban. Sebagai yang termuda, Kepal tak tanggung-tanggung melontarkan protes soal dominasi dalam berbagai kelompok sosial. Mereka juga muncul dengan gaya thrash yang paling beda, menunjukkan sisi modernnya dengan mencampur unsur heavy metal dan rock n’ roll yang kental.

“Buat kami tentu senang bisa gabung dengan kakak-kakak atau teman-teman sendiri, menyusun sebuah album thrash yang kayaknya belum pernah ada sebelumnya di generasi sekarang,” tutur Bani yang bertanggung jawab soal riff gitar di Kepal. “Tanpa mengurangi rasa hormat, tapi memang sudah seharusnya sih sebuah scene sadar akan dokumentasi dan generasi di bawahnya, terutama thrash atau metal lainnya. Bosen atuh metal teh itu-itu lagi,” tegasnya sambil menyalakan rokok american blend dan tersenyum.

Primal Decay: Bandung Thrash Metal Compilation’s Track list:

  1. Walker – “Bandung Thrash Zone”
  2. The Cruel – “Bulletprof”
  3. Werewolf – “Moon Of Death”
  4. Morbid Symetery – “Misery Business”
  5. Goredath – “Fight”
  6. T.S.D. – “Senggol Bacok”
  7. Killer 7 – “Penetrasi Ideologi”
  8. Hellcity – “Punks Not Dead”
  9. Kepal – “Si Preman”
  10. A.T. – “Dendam”
  11. Attacktor – “We Need Anarchy”
  12. Kill The Day – “Social Animal”

Secara keseluruhan, line up Primal Decay berhasil menangkap keragaman thrash metal di kota tersebut. Mulai dari band thrash yang cenderung old school hingga yang sudah tersentuk era modern. Mulai dari yang sangat cepat dan pendek hingga gaya thrash yang berdurasi panjang dan dinamis. Menariknya, tidak semua band dalam kompilasi ini beraliran murni thrash metal. Album ini juga diisi oleh band heavy metal bahkan punk juga grindcore, dan justru itulah sisi menariknya.

Metalheads disarankan perlu membeli rilisan Grimloc satu ini. Selain 14 trek kebut-kebutan yang cocok diputar di mana saja, album ini juga bisa jadi referensi bagus untuk kancah musik thrash metal di Indonesia. Dan yang menjadi poin utama Primal Decay bukan soal kualitas musik dan sound di dalamnya, tapi kolektifitas ragam musik thrash di dalamnya.

Penulis: Abyan Nabilio

Ilustrasi: Grimloc Records