Bicara Musik

Ulasan “Balada Semburan Naga” dari The Panturas
  • By : admin
  • 13 November 2020

Ulasan “Balada Semburan Naga” dari The Panturas

Bicaramusik.id –Klub rock selancar kontemporer asal Jatinangor, The Panturas, baru saja merilis sebuah nomor tunggal bertajuk “Balada Semburan Naga” pada Jumat (13/11). Lagu tersebut merupakan karya orisinal pertama mereka menyusul “Putra Petir” yang dirilis tahun lalu.

Kuartet yang berdiri sejak akhir 2015 ini nampaknya mengeksplorasi cara bermusik mereka lebih jauh dalam nomor teranyarnya. Di intro, mereka memasukkan lick gitar dengan nuansa bagaimana barat memandang Asia diiringi alunan bas dari Gogon dan drum ngebut dari Kuya ala A Go Go. Tidak baru memang karena sebelumnya The Vapors sudah menggunakan potongan gitar semacam itu dalam “Turning Japanese” (walaupun lebih dekat ke Tiongkok dibanding Jepang). Selain itu, potongan nada serupa juga bisa ditemukan di “Kunobatkan Jadi Fantasi” dalam Magnet! Magnet! milik The Upstairs.

Masuk ke bagian di verse pertama, Abyan (vokal, gitar) menyanyikan sebuah bujukan  canggung nan sok asyik kepada sesosok bapak untuk bertemu dengan putrinya, ditemani dengan isian gitar pentatonis Rizal (gitar) yang makin menambah nuansa pecinan di lagu tersebut. Namun nahas, sang bapak hanya membalas dengan helaan napas sehingga memaksa Abyan untuk berteriak, “Jadi canggung, dia tak acuh, harapan runtuh.”

Selanjutnya, giliran si bapak yang meracau. Ia menghina latar belakang sang vokalis –yang ternyata sedang berperan sebagai seniman bernama Topan– dan menyuruhnya jauh-jauh dari anak perempuannya.

Topan pun tak terima dan melakukan sedikit pembelaan dengan mencatut sedikit referensi terhadap Ca Bau Kan-nya Remy Sylado. Namun, usahanya tidak berbalas baik karena sang bapak malah “menyembur hangus” niat Topan yang dipikir busuk “bagai naga”.

Adegan tadi diceritakan dengan kalimat langsung yang dibacakan bersaut-saut oleh Abyan dan kolaborator mereka –pentolan komplotan punk urakan asal Bogor, Adipati dari The Kuda– yang berperan sebagai si bapak. Ini merupakan salah satu bentuk eksplorasi musik The Panturas karena sebelumnya mereka belum pernah menggunakan lirik model percakapan ala Benyamin Sueb atau Project Pop semacam ini.

Adipati sendiri dipilih karena punya karakter bernyanyi marah-marah.

“Dia kan kalau di The Kuda nyanyinya marah-marah tuh,” kata Abyan saat ditanyai menyoal nomor anyar bandnya. “Makanya kayaknya cocok kalo dimasukin sama lagu yang memang rencananya bakal ribut-ributan.”

Tensi sedikit menurun setelah sempat memanas sebelumnya. Solo gitar pentatonis becek muncul sendiri menemani semburan-semburan nirjelas dari Adipati dan setelah itu ketukan drum A Go Go Kuya memelan digantikan dengan ketukan floor dan snare yang dipukul satu-satu. Di sini, Adipati ceritanya membayangkan anaknya akan lebih cocok jika bersanding dengan pria yang lebih mapan. Anak tetangganya Pak Wijaya dirasa pas, dari nama bapaknya saja sudah terasa harta mereka tidak akan habis tiga turunan lagi.

Kata-kata dalam pikiran Adipati tadi diiringi dengan alunan musik yang makin terasa Imleknya. Di akhir interlude pelan itu, suara musik gesek dari tehyan ala iring-iringan ondel-ondel masuk, menambah lagi warna etnis hasil eksplorasi baru musik The Panturas.

Setelah itu hanyalah The Panturas yang biasa. Tempo kembali dikebut dengan isian gitar rock n roll standar, sebelum akhirnya perdebatan makin memanas antara Abyan sebagai Topan dan Adipati sebagai bapaknya putri.

Bagan verse yang kembali diulang diisi dengan saut-sautan yang makin rapat. Keduanya kini memperdebatkan soal apa modal yang dimiliki Topan hingga ia pun berani-beraninya membahas usia si bapak dan kesok-sokanannya di umur segitu.

Selain merilis “Balada Semburan Naga” di berbagai layanan musik digital, The Panturas juga melepas sebuah video lirik. Dalam video lirik tersebut, Abyan yang berperan sebagai Topan diperankan oleh sesosok pemuda yang lebih tampan dan gagah dari sang vokalis sedangkan Adipati digantikan oleh om-om botak yang entah siapa tapi ingatan Anda pasti tertuju pada penculik anak dengan mobil Jeep di sinetron atau film-film televisi.

Nuansa visual yang The Panturas bawa dalam video lirik senada dengan unsur pecinan dalam nomor teranyar mereka ini. Warna kuning dan merah bersama ornamen naga adalah tandanya. Padahal, mereka sama sekali tidak bicara etnis di liriknya. Potongan lirik yang mengarah ke sana hanya bagian referensi terhadap Ca Bau Kan saat Abyan menyebut nama Tan Peng Liang dan Tidung.

“Balada Semburan Naga” merupakan nomor pembukan ke album penuh The Panturas selanjutnya. Ini bisa jadi yang pertama bagi mereka karena Mabuk Laut (2018) tidak jelas bisa disebut album atau EP.

“Terlalu panjang untuk disebut EP tapi kependekan untuk disebut album,” tutur mereka dalam beberapa wawancara tentang Mabuk Laut.

Album yang belum dibocorkan judulnya ini nampaknya akan lebih matang dari yang sebelumnya. Mereka memakai jasa produser, Lafa Pratomo (yang dikenal sebagai gitaris Danilla), untuk album mendatang, menunjukkan niat yang lebih serius.

Mabuk Laut memang terasa diburu-buru. The Panturas langsung membereskan rekaman semua instrumen untuk semua lagu dalam satu pertemuan dengan cara live. Di pertemuan selanjutnya, mereka tinggal menambahkan vokal dan instrumen-instrumen tambahan.

Untuk album yang akan memuat “Balada Semburan Naga” ini, The Panturas menampilkan setiap proses rekaman melalui konten baru di kanal Youtube mereka, Melihat Panturas Bekerja. Dari tiap episodenya, bisa dilihat bahwa mereka merekam instrumen satu-satu. Proses ini saja memperlihatkan niat yang lebih dibanding rekaman album perdananya.

Kuya dan kawan-kawan berencana merilis album tersebut tahun depan, kalau sempat.