Bicara Musik

The Flowers Masih Hidup dan Baik-Baik Saja
  • By : admin
  • 5 November 2019

The Flowers Masih Hidup dan Baik-Baik Saja

Bicaramusik.id – The Flowers adalah band yang terus menggelinding dalam putaran jaman. Memulai karir bermusik dari tahun 90an, The Flowers tampaknya tak pernah mau mengubah tabiatnya lamanya, yakni bersenang-senang lewat musik yang dimainkan dan gaya hidup masing personilnya.

Kendati tentu sudah tak segila dulu kadar zat kimia maupun alkohol, di umur yang sudah tak semuda mulu, The Flowers masih menunjukan taring sebagai salah satu garda terdepan musik rock and roll Indonesia.

Mundur ke belakang, bicara soal band ini, tak bisa dilepaskan dari dua orang yang menjadi ikon band ini, Boris dan Njet di awal tahun 90-an. Boris  memainkan gitar dengan begitu nakal, dipadukan lengkingan vokal Njet, menjadikan keduanya pasangan musikal yang terpisahkan. Tahun 1997, bersama Bongky, Cilling dan Alm Cole, The Flowers (ketika itu belum menggunakan imbuhan “The”, masih Flowers) merilis sebuah album bertajuk 17 Keatas. Album tersebut, menjadi awal perjalanan keliaran mereka dalam kancah musik rock tanah air.

Tema-tema yang diusung yakni tongkrongan liar, kemiskinan masa muda, dan narkoba (mesti mereka tidak mengaku secara terang-terangan dan membebaskan pendengar untuk mengartikannya)  menjadi inspirasi dalam setiap karya yang mereka ciptakan seperti “Tolong Bu Dokter”, “Boncos”, “Tong Sampah” dan “Ngga Ada Matinya”, menjadi awal kemunculan band yang berakar dari gang potlot ini. Album ini kemudian mengundang perhatian pecinta musik cadas tanah air dan menegaskan keberadaan Flowers.

Setelah merilis album pertama, kehidupan membawa mereka kepada jalan masing-masing. Ditambah lagi, meninggalnya Cole, membuat band ini memutuskan untuk vakum untuk waktu yang tak ditentukan. Musik akan mengembalikan sejauh apa pun kau pergi, tampaknya hal ini juga berlaku untuk Flowers. Dua personil tersisa, Njet dan Boris, kembali menghela nafas panjang untuk menghidupkan kembali band ini. Masuknya Dado Darmawan (Drum), Eugeun Bonty (Saxophone) dan Leo ( Bass) membawa angin segar untuk band yang terinspirasi dari The Black Crowes dan The Rolling Stones ini.

Di tahun 2010, Flowers membentuk album ke dua mereka yang bertajuk Still A Live & Well. Album ini menjawab kerinduan para penggemar mereka yang sudah lama menunggu Flowers membuat album baru. “Rajawali”, “Negeri Berteriak”, “Aku Padamu”, menjadi hmyne baru penggemar dalam album ini.

Masuknya Eugeun membawa pembaharuan musik dalam tubuh Flowers. Mereka seakan jenuh dengan konsep band rock and roll dengan dua gitar. Selain itu, Flowers juga menambahkan imbuhan “The” untuk nama depan mereka. Jadilah The Flowers, band rock and roll tua nakal yang masih bersenang-senang.

Sejatinya The Flowers memang ditakdirkan tidak menjadi band yang produktif menelurkan album. Jika kamu para penggemar yang berharap band ini menelurkan album tiap tahun, atau panggung yang padat karena berdamai dengan keinginan pasar, sepertinya kamu akan patah hati untuk itu. Perlu digaris-bawahi, band ini membuat karya hanya untuk menyenangkan hatinya saja. Band egois memang. “Kalau pendengar suka silakan, kalau enggak ya enggak apa-apa,” ujar Boris suatu waktu.

Kembali terbelah oleh kehidupan masing-masing, ditambah Leo yang memutuskan untuk keluar tahun 2012 lalu, membuat para pendengar The Flowers harus sabar menunggu band liar ini merilis album kembali. Waktu dan tahun berlalu, The Flowers seakan tidur nyenyak dalam kehidupan masing-masing personilnya. Walau sesekali, mereka kerap tampil dalam panggung intim untuk sekadar menyapa para Rajawali/Rajawati, sapaan khas untuk penggemarnya.

Namun, tiba-tiba secara mengejutkan, pada 6 Oktober 2019 di panggung Synchronize Fest lalu, band ini muncul kembali dengan merilis album ke tiga yang berjudul Roda Roda Gila. Hal ini tentu mengejutkan dan membahagikan untuk para penggemar dan pendengar mereka.

Secara sound, album Roda Roda Gila mengingatkan dengan album pertama mereka yang kumuh dan kasar yang bisa dirasakan ketika mendengar lagu “Roda Roda Gila”, “Ngehe” atau “Baby Blues Syndrome” yang membuat para pendengar setianya akan merasakan nuansa yang sangat The Flowers.

Kembalinya The Flowers, selain menyenangkan tentu menimbulkan pertanyaan: apakah mereka akan kembali menghilang?

Pesta Lanjutan

Setelah sukses merilis album di panggung Synchronize Fest, The Flowers kembali menggelar pesta lanjutan atas kelahiran anak ke tiganya tersebut. Kali ini, mereka sengaja menciptakan panggung hangat di daerah Fatmawati, Haro by The Rooftop.

Di panggung ini, The Flowers turut mengajak tiga band yang secara musik jelas berbeda dengan musik yang biasa mereka mainkan.  Budiraya, Berbeza dan Orkes Nunung Cs, dipercaya menjadi band pembuka untuk gig yang mereka namai “Pertunjukan Roda Roda Gila.”

Hari itu, Jumat 25 Oktober, Fatmawati tak terlalu macet seperti biasanya. Pintu dibuka pada pukul 19.00, Rajawali/Rajawati sudah  bersiap untuk menyaksikan idola mereka di sebuah panggung intim.

Dibuka oleh Budiraya, band asal Depok yang sudah merilis dua single bertajuk “Melintasi Jagad Raya” dan Berat” ini, sukses membuka perhelatan dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Setelah Budiraya memainkan lagu-lagunya, giliran Berbeza band yang personilnya lintas negara ini tampil membawakan lagu-lagu rock malaysia tembang kenangan antara lain “Isabella” dan “Mencari Alasan.”

Frontman mereka,  Datuak Alwi, tahu benar cara menghibur penonton yang hadir malam itu lewat candaannya saat break lagu. Selepas Berbeza, Orkes Nunung CS hadir menyapa penonton lewat lagu bertemakan komedi seperti “Abang Gorengan” dan “Bay”, membuat penonton tertawa karena aksi lucu mereka di panggung.

Penampil yang ditunggu-tunggu, The Flowers akhirnya bersiap. Sebelum The Flowers tampil, penonton disuguhkan dengan video dokumenter proses penggarapan album ke tiga mereka. Video ini dibuat oleh fotografer, Tebby Wibowo, yang telah mengikuti karir bermusik The Flowers dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Jarum jam menunjukan angka 22.00 ketika The Flowers naik panggung. Para personil yang sudah tak lagi muda ini, membuka pertunjukan dengan membawakan dua lagu dari album pertama mereka, “Tong Sampah” dan “Boncos.” Mendengarkan dua lagu ini, penonton dibawa ke periode 90an, dan akan terbayang bagaimana nakalnya masa muda mereka.

Lagu ke tiga penonton diajak kembali ke tahun 2010, dimana lagu ini dirilis. Judulnya Aku Padamu. Lagu ini bercerita tentang pujian seorang lelaki kepada lawan jenisnya. “Kamu mungkin bukan yang terindah, tapi kau bisa isi ragaku, jiwaku selalu,” begitu reffrain lagu tersebut. Gombal, bukan? Tak apa, rocker mah bebas.

Baik personil maupun penonton mulai berkeringat. Aroma sesak karena kerumunan begitu padat, menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. Tapi bukannya mengeluh, penonton malah makin girang ketika The Flowers membawakan single terbaru mereka, “Roda Roda Gila”, sebuah lagu bercerita tentang sensasi dalam mengendarai motor bagi mereka yang berjiwa muda.

Setelah lelah berjoged dan bernyanyi dengan lagu menghentak, The Flowers mengajak penonton untuk rehat sejenak dengan membawakan “Tuhan Ikut Bernyanyi” dan “Bayangan”. The Flowers sendiri sebenarnya tak banyak menciptakan lagu balada seperti dua lagu ini. Beberapa orang menganggap, “Tuhan Ikut Bernyanyi” dan “Bayangan” memang dimaksudkan menjadi lagu tongkrongan yang bisa dinyanyikan dengan kawan-kawan menggunakan gitar akustik. Entahlah.

Setelah dimanja dengan dua lagu slow, The Flowers kembali menyuguhkan lagu-lagu keras mereka seperti “Lonely Boy”, “Tolong Bu Dokter” dan “Rajawali.” Suasana makin pengap, keringat mengucur deras dan aroma alkohol begitu kentara, membuat para penonton makin tak terkendali, tapi tetap tertib.

The Flowers menutup “Pertunjukan Roda Roda Gila” lewat tembang dari album pertama mereka berjudul “Ngga Ada Matinya.” Lagu ini bercerita tentang dua orang kawan yang makin malam, mabuknya makin tak terkendali. Ya, di usia yang sudah tak lagi muda, The Flowers memang tak berhenti bersenang-senang, tak lelah berkarya dan yang paling penting, mereka masih hidup dan baik –baik saja.

 

 

Penulis: Rio Jo

Editor: Antie Mauliawati

Foto: Atet Dwi Pramadia