Bicara Musik

Tentang El-Karmoya dan Sarunya Identitas (Kewarganegaraan) Mereka
  • By : admin
  • 25 October 2019

Tentang El-Karmoya dan Sarunya Identitas (Kewarganegaraan) Mereka

Bicaramusik.id – Harmonisasi suara terhadap reffrein “Bamboleo” terdengar sayup-sayup di udara. Begitu ditelusuri mengikuti suara yang semakin lama semakin jelas, sumbernya ternyata berasal dari kumpulan pria yang jelas-jelas bukan berasal dari negara Latin manapun. Biarpun kulit tropis (jika bukan gelap) beberapa dari mereka masuk dalam atribut beberapa negara terkait.

Carlos Deliano (Rezki Delian), Ariado (Rai “Breh” Ariadi), dan Tito (Ade Kurniawan) saling melengkapi perkusi yang terdiri dari cowbell, shaker, conga, bongo, dan chimes. Triando-san (Robi Trianda Putra), sang naturalisasi dari Jepang, menggebuk set drum pad dengan semangat. El Wiku (Wiku Al-Fazri) membantu mereka menjaga bagan lagu dengan contrabass elektrik cekingnya. Seluruh jari kanan duo Juan (Helmi Raihan) dan Bacquanos (Husni “Bacok” Ahmad Haikal) mematil senar-senar nilon mereka bak gitaris flamenco sembari mengisi harmonisasi suara mengiringi vokal Pablo (Sufy Muthahar). Mereka mengakhiri “Bamboleo” dengan kombinasi yang pas antara lagu pengiring Dangdut Academy dan intro Rage Against the Machine.

“Tadi si aa-nya bilang satu lagu lagi,” ujar Juan sembari mengangkat jari telunjuknya seperti kebiasaan para operator studio, menandakan berakhirnya sesi latihan kelompok yang menamai diri El-Karmoya tersebut.

Padahal mereka sedang latihan di salah satu kantin di pojokan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dikenal (oleh penghuni kampus tersebut) dengan sebutan Atep. Seyogianya, di tempat bersejarah bagi banyak mahasiswa sastra Unpad tersebut (coba saja tanya Uus yang botak dan tatoan itu jika tidak percaya), mereka bisa latihan sampai mampus.

Rabu (16/10) malam itu, El-Karmoya baru saja menyelesaikan sesi latihan rutin mingguannya. Sembari duduk, bersantai, membakar rokok, meminum kopi, membuka baju, dan memamerkan tubuh kekar hingga gempal mereka untuk melepas lelah, unit Latin asal Jatinangor ini bercerita tentang pengalaman tur mereka beberapa waktu lalu.

Tur enam titik bertajuk Buscando Jon Kartel ini dilaksanakan September lalu. El-Karmoya bermain tiga kali di Bali (salah duanya di Soundrenaline), dilanjutkan dengan masing-masing satu panggung di Malang, Yogyakarta, dan Tangerang. Banyak hal negatif menarik berbau kenakalan remaja yang bisa diceritakan dari perjalanan mereka, namun para personel sepakat untuk hanya menceritakan yang baik-baiknya saja.

“Kami belajar sambil bersenang-senang,” kata Bacquanos tentang apa yang mereka dapatkan selama tur. Ia mengaku mendapat banyak pelajaran dari sisi produksi panggung dan penampilan dari orang-orang “keren” yang ditemui sepanjang perjalanan, baik melalui pengamatan maupun obrolan. “Anak-anak melakukan observasi dan menerapkan hasilnya pada diri masing-masing.”

Bacquanos juga menambahkan bahwa masing-masing dari El-Karmoya lupa akan kehidupan mereka di luar bermusik selama turun ke jalan. “Misalnya saya ada tanggung jawab ngurus usaha, anak-anak ada yang kuliah. Benar-benar dilupakan. Bukan dilupakan, kelupaan,” jelas Bacquanos sembari berkelakar. “Dan karena lupa jadi senang.” Biarpun begitu tidak ada dari mereka yang menambahkan detail cara mereka me-“lupa”-kan dan bersenang-senang.

Buscando Jon Kartel juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpersonel. “Setelah Pablo pergi ke Papua, kita seperti mati suri,” kata Bacquanos. “Tur ini membuat kami bonding dan semangat lagi. Jarang juga kumpul seminggu penuh, biasanya cuma sehari doang buat manggung.” Beberapa waktu lalu, pentolan mereka memang terbang ke Papua untuk melaksanakan penelitian ilmiah demi kelangsungan studinya.

Kolektif asal kota satelit antah-berantah, Kedubes Bekasi, bisa jadi berperan besar dalam keberlangsungan tur ini. Dengan cara yang sedikit banyak kebetulannya, mereka lah yang menggiring El-Karmoya untuk tampil di Soundrenaline 2019.

“Mereka kekurangan talent terus lihat Instagram dan posting-an teratasnya kita. ‘Ya sudah ini saja,’” jelas Bacquanos. “Kebetulan kita juga pernah main di Kedubes Bekasi,” tambah Triando-san.

El-Karmoya mengakui bahwa modal tur kebanyakan berasal dari bayaran mereka di salah satu festival terbesar Tanah Air tersebut. “Itu pun minus,” tambah Bacquanos.

Mereka bermain pada dua hari gelaran Soundrenaline di sebuah panggung kecil dekat pintu masuk. Walaupun tidak bermain di panggung besar, mereka mengaku mendapatkan cukup banyak tanggapan baik. Pada hari pertama, memang tidak begitu banyak yang berhenti untuk melihat penampilan mereka namun pada hari kedua, berkat bantuan selesainya set Shaggydog dan persiapan tim Dipha Barus yang panggung keduanya mengapit panggung mereka, banyak pengunjung yang akhirnya berhenti dan terhibur oleh pertunjukan Pablo dan kawan-kawan.

Beranjak dari obrolan yang tidak terlalu panjang lebar soal tur Buscando Jon Kartel, El-Karmoya tergerak untuk menceritakan bagaimana mereka bisa bersatu.

Dari Duo hingga Sejibun

Hari itu sungguh membosankan. Di kampung halaman mereka yang entah di sebelah mananya Meksiko, Bacquanos dan Pablo sedang menunggu anggota band masing-masing yang tidak kunjung datang untuk latihan. Pablo sebagai penggebuk drum di band lamanya Ngoboy dan Bacquanos sebagai pemain gitar untuk unit ska tidak biasa Olegun & the Gobs.

Dengan kebosanan yang membabi buta, Bacquanos akhirnya mengisi waktu, memainkan gitar dengan gaya Latin khasnya sembari berada di keadaan “setengah sadar”. Pablo yang tingkat kesadaran dan kebosanannya tak kalah keterlaluan, tiba-tiba bernyanyi menyesuaikan dengan tangga nada dan akor eksotis yang dimainkan rekannya. Pablo juga menambahkan racauan-racauan tak jelas arti yang terdengar mirip Bahasa Spanyol, membuat keduanya memainkan musik yang terdengar seperti Rodrigo Amarante (pada lagu “Tuyo”) jika diringi Carlos Santana dengan gitar kopong. “Carbere amor,” nyanyi Pablo saat itu.

Frasa tersebut akhirnya menjadi judul lagu pertama mereka. Walaupun lirik sepanjang lagu “Carbere Amor” tidak dapat dipahami orang banyak (termasuk Pablo, Bacquanos, dan mungkin orang berbahasa Latin manapun),  dua kata dalam judul lagu yang diulang-ulang di bagian chorus itu sukses membuat penonton ikut bernyanyi saat dibawakan di panggung pertama mereka.

Bagai Lennon dan McCartney di ranah yang berbeda, duo ini menggemparkan panggung-panggung kecil kampus di (entah kenapa tiba-tiba ke sini) Jatinangor walaupun mengaku tidak pernah latihan. Gimmick mereka kuat. Pablo, dengan bahasa ibunya yang penuh kepalsuan, memberikan pesan-pesan di sela lagu. Lalu, Bacquanos, dengan dialek Sundanya, menerjemahkan pesan rekannya ke bahasa yang lebih dapat dipahami khalayak mereka.

Format duo bertahan dari 2013 hingga 2017. Di umur keempat menuju lima ini lah mereka memutuskan untuk menjadikan El-Karmoya (nama yang tiba-tiba disepakati setelah obrolan bersama sekumpulan teman) ke jalan yang lebih serius.

Jiwa usahawan Bacquanos tergerak. “Ini bisa dijual,” tutur Bacquanos menyimpulkan perpaduan antara permainan gitar Latinnya yang cenderung serius dengan lirik racauan Pablo yang humoris.

Mereka mulai membentuk tim. “Mulai cari instrumen yang cocok,” kata Pablo. Setelah beberapa kali membongkar pasang personel dengan berbagai instrumen (termasuk harmonika, suling bambu, hingga kecapi yang nyatanya tidak cocok) mereka berakhir pada formasi seperti di awal tulisan.

Triando-san adalah yang awal-awal masuk. Peranakan Jepang Meksiko ini awalnya iseng mengisi drum saat duo El-Karmoya memainkan reff “Carbere Amor” di salah satu panggung kampus. “Setelah main dipikir-pikir sama (Bacquanos), ‘enakeun geuning nyak,’” ujar Pablo. Namun, Triando-san juga tak lepas dari proses bongkar pasang karena kesibukannya di beribu band lain seperti Siddharta.

Ariado yang tadinya sering membantu menjadi teknisi di masa-masa duo, akhirnya ditarik untuk memainkan cowbell dan alat-alat perkusi lainnya ditemani Tito.

Juan dan El Wiku menyusul kemudian. El Wiku dulunya merupakan pemain keyboard tarikan di sini.

Menjelang Buscando Jon Kartel, Carlos Delianos masuk memainkan set conga dan bongo.

Setelah membentuk tim tersebut (dan masih bongkar pasang), El-Karmoya merilis sebuah EP yang direkam live bertajuk Viva La El-Karmoya, berisi tiga trek yaitu “Luca Loco”, “Carbere Amor”, dan sebuah nomor instrumental tituler.

Keseriusan mereka terbukti. Bersama kolektif sinema asal Bandung, Gerombolan Struzzo, mereka membuatkan klip video untuk “Carbere Amor”. Konteks lagu ini baru jelas setelah videonya jadi. Carbere ternyata adalah kekasih Pablo dengan gangguan mental yang telah meninggal. “Carbere Amor” menjadi pelampiasan cinta Pablo kepadanya.

Berlatar di sebuah kebun teh, klip untuk lagu tersebut menampilkan upacara pemakaman Carbere (Moyann Larasati dari Bananach) yang nampaknya lebih menyenangkan dibandingkan menyedihkan. Warna hijau kebun teh ditambah penggradasian warna khas Meksiko di film-film Hollywood ternyata cukup bisa menggantikan hijaunya tumbuhan hijau lain yang terkenal akan kehijauannya.

“Tadinya kita menemukan arti carbere ternyata karbohidrat,” kenang Pablo. “Tapi itu jangan dimasukkan (ke tulisan), karena kita sudah rilis lagu dengan cerita tadi,” tambah Baccuanos. Padahal cinta karbohidrat nampaknya lebih relevan dengan penampilan Pablo (maafkan ke-body shamming-an ini dan percayalah bahwa saat body shamming bukan lagi menjadi shamming dan racial slurs bukan lagi slurs, itu lah indikator perdamaian sejati).

Untuk merayakan rampungnya proses pembuatan video, mereka mengadakan sebuah showcase penuh gimmick di Padepokan Guruminda, Bandung pada akhir September 2018. Pada perayaan ini, mereka mengadakan pelatihan Zumba dengan pelatih pria bule asal Ekuador untuk menarik kedatangan ibu-ibu sekitar yang sering mirror selfie di cermin sanggar dengan setelan ketat khasnya. Pendatang juga disambut oleh seorang pemain gitar flamenco di gerbang masuk sebagai pertunjukkan pembuka.

Dengan bantuan tim pemain brass dan keyboard tambahan, mereka membawakan set panjang berisi lagu-lagu mereka di Viva la El-Karmoya dan beberapa lagu gubahan. Salah satu hasil gubahan mereka untuk “Quizás, Quizás, Quizás”, diminta dimainkan ulang oleh pemilik padepokan yang kebetulan penggemar Los Morenos (kelompok musik sejenis dari generasi sebelumnya). El-Karmoya yang memang sudah biasa mengulang lagu untuk set mereka yang kadang kepanjangan, setuju dan akhirnya mengiringi sang ibu pemilik padepokan untuk bernyanyi.

“Dia mah liriknya benar (tidak seperti Pablo) tapi beda nada dasar,” kenang Juan. “Kita jadinya ngulik dulu.”

Beres dengan urusan perayaan kematian kekasihnya, Pablo mendapat petunjuk mengapa Carbere bisa meninggal. Melalui dua informan anggota kartel Jatinangor (Galuh Ilham dan Ua Sastrafara), ia mengetahui bahwa kekasihnya meninggal akibat ulah seorang penting di sebuah kartel beras, Jon Kartel. Melalui nomor tunggal terbaru mereka “Jon Kartel”, busur cerita tur enam titik Buscando Jon Kartel (Mencari Jon Kartel) dimulai.

Single yang bekerja sama dengan Bane (Rosemary) sebagai peniup trompet ini disampaikan melalui sebuah video lirik, karena ya akhirnya lirik mereka menggunakan Bahasa Spanyol yang baik dan benar. Dengan bantuan seorang pria asal Ekuador, Santiago Errazo (yang tadi dijual untuk menarik perhatian ibu-ibu Zumba), sebagai editor bahasa, Pablo dan kawan-kawan berhasil membuat susunan kata-kata yang tidak akan mengecewakan, terlebih jika Anda mencari artinya di Google Translate.

Dalam pembuatan video lirik, salah satu aktor, Galuh Ilham, di kesempatan lain, sempat mengungkapkan kesulitan yang mereka temui di lapangan.

“Itu Honda Win habis bensin,” katanya. Karena waktu senja sudah hampir habis dan semburat jingganya dibutuhkan untuk nantinya digradasikan kembali sesuai mata barat melihat Meksiko, mereka hampir memutuskan untuk menggantinya dengan Honda Scoopy. “Tapi di Meksiko asa eweuh Scoopy,” tutur Galuh pasrah. Untungnya salah satu dari tim yang ikut pengambilan gambar saat itu secara tidak terlalu sigap mendapatkan bensin cadangan. Hahaha… kebayang kan seperti apa kondisi pada saat itu?

Tragedi bensin Win memang menjadi penghambat. Stok gambar mereka kurang. Alhasil, scene fenomenal Galuh membersihkan ingusnya yang diulang-ulang itu menjadi daya tarik tersendiri, seperti frasa “Carbere amor” dalam “Carbere Amor”.

Setelah panjang lebar menjelaskan perjalanan karier kelompok musiknya, Sufy sebagai Sufy (bukan Pablo) berani-beraninya menyimpulkan bahwa El-Karmoya terbentuk “seperti band-band kampus lainnya”. Akan tetapi jika dilihat dari sisi nonfiksi perjalanan mereka, pernyataannya tadi memang betul adanya.

“Sekadar ‘yuk ah’, lingkungan sosial yang terus bareng-bareng terus diundang main. Ya, mau-mau saja dulu enggak dibayar juga. Eksistensialisme,” jelas Sufy yang (sekali lagi) berperan sebagai Sufy sembari sedikit mengambil kutipan Nietzche atau Heidegger atau entah siapa yang hanya dapat dipahami Anda yang berasal dari kalangan orang-orang kritis masa kini Ibu Kota.

Sekadar informasi, jika Anda mengenal Sufy sebagai Pablo atau pembawa acara yang kelakuannya tak karuan di panggung, bersiap-siaplah untuk tercengang saat pertama kali berbincang satu lawan satu dengannya. Bahasan yang akan ia angkat bisa jadi hal-hal yang serius (dari sastra hingga budaya), mungkin dipengaruhi latar belakang pendidikan lanjutan kajian budaya yang sedang dijalaninya.

 

Bukan Semata-Mata Musik

Penampilan El-Karmoya bukan sebatas sebuah pertunjukan musik. Mereka menampilkan sebuah seni pertunjukan yang secara sok tahu bisa dikatakan terbangun dari musik, humor, dan narasi fiksi.

Kemampuan bermusik tiap personel tidak perlu diragukan. El Wiku misalnya punya dasar jazz yang lumayan mempuni. Bacquanos, sebagai inti dari musik El-Karmoya, sudah mendalami gaya khasnya dari entah kapan. Ia punya banyak tangga nada dalam gudang senjatanya. Terdengar ada sedikit minor harmonik dalam permainannya. Namun, yang ia sedang dalami sekarang adalah perkawinan antara phrygian dan pentatonik dengan sedikit blue note, gaya yang menurutnya sering dipakai oleh Santana.

Wajar jika phrygian digunakan dalam musik sejenis ini. Phrygian serupa dengan diatonik jika dimulai dari nada ketiga. Beberapa musik Latin seperti flamenco, pada “Malaguena”contohnya, sering kali menjadikan nada ketiga yang dimayorkan menjadi dominan, membuatnya terdengar seperti nada dasar. Itu ditambah pentatonik blues akan menghasilkan suasana seperti permainan gitar Santana.

Selain pada permainan jarinya, Bacquanos juga dengan nakalnya bereksperimen mensubtitusi gitar kopongnya dengan yang elektrik beberapa kali seperti beberapa penampilan di tur mencari Jon Kartel.

Dari segi musikalitas, El-Karmoya mengaku mengadaptasi musik Latin secara keseluruhan. “Latin pop” kalau kata Pablo.

“Kalau flamenco kan butuh gitar banyak. Nah kita enggak sanggup,” jelas sang gitaris. Biarpun begitu, ia memasukan akor-akor khas flamenco dalam “Jon Kartel”.“(Musik) Kuba juga butuh brass yang kuat,” tambah Pablo.

Bagi yang menganggap mereka grup mariachi, Anda salah (tapi tidak besar) karena komponen penting musik tersebut adalah biola dan tim brass yang hanya sesekali El-Karmoya bawa ke panggung-panggung mereka.

Mereka mengaku akan menggunakan pemain additional jika secara khusus membawakan salah satu jenis musik tersebut.

“Carbere Amor” nampaknya menjadi model bagi lagu Pablo dan kawan-kawan selanjutnya. Lirik asal-asalan ditambah dengan punch line yang diulang-ulang di bagian inti lagu membuat pendengar mereka bisa ikut bernyanyi walaupun bisa dipastikan tak seorang pun akan paham maksud dari lagunya.

Di panggung setelah klip videonya beredar, Pablo pernah kelabakan yang menghadapi penonton yang lebih hafal lirik “Carbere Amor” dibanding dirinya. “Kan dia mah liriknya seumur hidup enggak pernah sama,” ujar rekannya Bacquanos.

Dalam lirik, Pablo juga seringkali menyempilkan kata-kata lucu (jika tidak kotor) dalam lagu ciptaan maupun gubahannya. “Luca Loco” yang seharusnya ditulis “lucha loco”dan dibaca “luca loko”, misalnya, dilafalkan “luka loco” oleh sang setengah matador setengah mariachi gadungan itu. Alasannya, Anda yang punya latar belakang Bahasa Sunda mungkin akan paham.

Selain itu, gubahan mereka untuk lagu “Corazón Espinado” juga mengganti bagian “corazón espinado” dengan “tilas boker dilamotan”. Lagu tersebut tidak pernah dibawakan lagi karena para personel sepakat bahwa “lagunya amoral”.

Tingkah polah Pablo yang serampangan ini menjadi komponen yang sebelumnya disebut Bacquanos sebagai “bisa dijual”, di samping kemampuan musik personel lain termasuk dia. Satu lagi yang tidak lepas dari wajah El-Karmoya adalah dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Kisah meninggalnya Carbere hingga pencarian Jon Kartel dapat dijadikan sebuah serial drama komedi aksi yang menarik. “Kita memang berencana membuat lagu lanjutan Jon Kartel,” tutur Bacquanos.

Di sisi lain, Ariado yang sudah mengikuti langkah mereka dari awal tertarik untuk membuat semacam prequel dari kisah tersebut. “Kalau kemarin anak-anak mau bikin lanjutan Jon Kartel, aku mah pengin nulis cerita bagaimana masa kecil Pablo dan Bacquanos,” jelasnya.

Jika karya tulis Ariado dan karya-karya mereka selanjutnya konsisten mengikuti narasi ini, mereka bisa saja membuat semesta fiksi sendiri yang dapat dikembangkan melalui berbagai macam media.

Krisis Identitas

Dari beribu-ribu karakter yang telah ditulis, bisa disimpulkan bahwa ketermpilan Pablo merusak bahasa merupakan salah satu daya tarik El-Karmoya. Kejenakaannya menghibur siapa pun yang menonton.

“Kita besar (dengan cara itu),” kata Bacquanos. “Kita tidak boleh lupa berasal dari mana.”

Kebanyakan personel lain juga sependapat dengan pemimpin divisi musik mereka itu. Namun, Bacquanos mengungkapkan bahwa ada bagian dari “anak-anak” yang malah ingin membawa El-Karmoya ke jalan yang lebih lurus, ke jalan di mana pesan-pesan lagu yang mereka mainkan lebih serius, setidaknya betul dari segi bahasa.

Nampaknya, yang dimaksudnya adalah Sang Pablo sendiri. “Sebenarnya tidak ingin dilihat sebagai sekadar band lawak,” ujar Sufy di sela-sela perbincangan.

Walaupun berbeda pendapat, mereka mengaku sedang mempersiapkan satu bahan lagu dengan pesan yang memang serius.

“Ada sih satu bahan yang memang punya pesan. Bahasanya pun benar,” jelas Bacquanos. “Tapi ya enggak akan banyak yang paham juga sih khalayak.”

Kedua pilihan yang mereka hadapi memiliki baik buruknya masing-masing. Akan ada yang tetap mendengar mereka apa pun alasannya. Mereka hanya perlu memilih pasar yang sesuai. Lagi pula dengan jumlah lagu yang masih segini, masih banyak celah yang dapat El-Karmoya kembangkan.

 

 

Penulis: Abyan Nabilio

Editor: Antie Mauliawati