Bicara Musik

Resensi Album Tashoora ‘Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya’
  • By : admin
  • 18 November 2019

Resensi Album Tashoora ‘Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya’

Bicaramusik.id – Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya (mari kita singkat jadi HJCHBG karena judulnya cukup ber-“karakter”) dari Tashoora yang baru saja dirilis akhir Oktober lalu. Album ini konsisten dari berbagai sisi. Dari sisi musik, mereka memanfaatkan tekanan-tekanan perkata melalui vokal yang mengombinasikan suara laki-laki dan perempuan tanpa harmonisasi sepanjang album.

Model ini sering kita temui dalam kancah musik muda-mudi Indonesia setelah Barasuaran wave mencuat. Saya memilih istilah tersebut secara serampangan untuk menyebut gelombang musik yang tiba-tiba muncul setelah Taifun dari Barasuara beredar 2015 lalu. Supaya apa? Supaya keren.

Kata seorang penulis musik, Raka Ibrahim (dalam tulisannya yang kini entah bisa dibaca di mana), model vokal seperti ini boros. Tapi, menurut saya, biarpun kurang memanfaatkan jumlah vokalis untuk menciptakan harmonisasi nada, paduan timbre maskulin dari Danang Joedodarmo dan feminin dari dominasi vokal Dita Permatas ditambah sedikit Gusti Arirang cukup membuat pilihan vokal semacam ini terdengar megah dan kuat.

Dari sisi lirik, semua lagu dalam album ini konsisten mengangkat isu sosial dan mungkin akan terdengar sedikit mengganggu di kalangan konservatif, semikonservatif, bahkan di telinga saya yang kadang-kadang masih ibadah lima waktu. Saya ingin membahas kekonsistenan album ini lebih lanjut, namun nampaknya segala hal berkaitan dengan musik dan isu sosial terlalu berat bagi saya yang bukan kritikus musik maupun lulusan S2 kajian budaya ini. Karena itu, mari kita bahas HJCHBG dengan cara yang lebih menyenangkan, gim video. Hore.

Sebelum ke sana, saya ingin mengabarkan bahwa ini pertama kali saya menggunakan “saya” dalam tulisan saya. Biasanya (walaupun tidak bisa dibilang biasa karena saya tidak banyak menulis), untuk memenuhi kebutuhan sok-sokan objektif dari dalam diri, saya selalu menghindari penggunaan kata ganti orang pertama. Namun, untuk menekankan kepada khalayak bahwa ini merupakan opini perseorangan sekaligus menghindari tanggung jawab sosial, “saya” dinilai baik untuk digunakan.

Kembali ke hubungan gim dan Tashoora. Trek pertama dalam HJCHBG, “Agni” mengingatkan saya pada serial Japanese role playing game (JRPG) berjudul Breath of Fire. Pemeran utama gim tersebut, Ryu, bisa berubah menjadi naga bernama Agni di sekitaran akhir cerita. Agni adalah perubahan terkuat Ryu yang membuat penamatan gim menjadi tidak karuan mudah setelah didapatkan. Menelisik lirik Agni yang tajam, bak senjata untuk melawan kondisi sosial yang terjadi di negeri ini dan berharap terciptanya era baru yang lebih damai.

Dentuman floor tom bertubi-tubi di lagu selanjutnya, “Terang”, membawa saya ke nuansa yang hampir sama dengan yang saya rasakan saat pertama kali bertemu Ayla di Chrono Trigger atau sampai di The Veld saat bermain Final Fantasy VI atau bertemu Bugenhagen di Cosmo Canyon saat bermain Final Fantasy VII. Dentuman tadi ditambah dengan bebunyian akordeon dari Dita Permatas memang membuat suasana sedikit tribal dan ini sering ditemukan dalam lagu-lagu di HJCHBG.

Suasana baru berubah di tengah lagu saat tempo terasa turun dan vokal Baskara dari .Feast masuk. Seretan-seretan logat khas (Jakarta) Selatan idola remaja masa kini sukses membuat bagian “Terang” yang ini terasa lebih modern. Liriknya menafsirkan sebuah manifestasi dari kata-kata itu sendiri. Dengan judul “Terang” namun menggunakan padanan kata yang terasa gelap dan kuat. Menarik.

“Ayat-ayat memaksa merajam manusia

Surgamu yang mana?”

Tashoora berkolaborasi dengan Gardika Gigih pada nomor selanjutnya, “Nista”. Kolaborasi tersebut membuat lagu ini menjadi lagu piano. Dominasi piano pada lagu ini mengingatkan saya pada suasana dataran salju di I am Setsuna. Liriknya juga membuat saya sama bimbangnya dengan Endir untuk menyelesaikan tugas membunuh Setsuna atau malah menyelamatkannya dan menanggung apa pun akibat dari hal yang belum teramalkan ujungnya.

“Jika mati kan berujung pada siksa

‘Kan ‘ku ketuk pintunya

Jika api yang menunggu ‘ku di sana

‘Kan ‘ku dekap nyalanya”

Tadinya, saya ingin mengaitkan “Agni” dengan Wild Arms 3 karena bicara soal perempuan tapi judul nomor pertama HJCHBG itu sudah sangat cocok dengan naga-nagaan yang menyembur api. Untungnya, Tashoora mengangkat lagi isu perempuan pada “Distilasi”.

Setelah Wild Arms dan Wild Arms 2 dipimpin oleh Rudy Roughknight dan Ashley Winchester secara berturut-turut dan keduanya laki-laki, Wild Arms 3 hadir dengan pemeran utama perempuan, Virginia Maxwell. Walaupun sebelumnya Final Fantasy VI telah mengenalkan Terra, tapi gim tersebut tidak punya pemeran utama yang jelas. Instalasi pertama Wild Arms di PS2 ini jelas-jelas menjadikan Virginia sebagai pemimpin party.

“Kami terima para ikhwan tanpa catatan

Jangan paksa beda ajaran

Jangan paksakan”

Lagu selanjutnya nampaknya adalah kolaborasi keluarga. Dalam “Tatap”, Tashoora bekerjasama dengan Kuaetnika yang dipelopori Djaduk Ferianto dan Butet Kartaredjasa. Djaduk Ferianto merupakan Ayah dari Gusti.

Kerana ada “etnik” dalam Kuaetnika maka “Tatap” memang didandani dengan nuansa etnik. Trek ini dibuka dengan alat musik tiup sarat treble yang suaranya mirip serunai dari dataran Minang atau terompet kumis (atau apa lah namanya) yang biasa mengiringi silat di Betawi. Bunyi terompet tersebut ditambah vokal tanpa lirik yang mengiringi ditambah lagi dengan bebunyian gamelan di tengah lagu cocok untuk dijadikan lagu pengiring tambahan untuk Breath of Fire IV.

JRPG satu ini memang tidak mengangkat banyak latar fantasi Eropa abad pertengahan seperti gim sejenisnya. Breath of Fire IV lekat dengan nuansa Asia (Cina, India) hingga Timur Tengah.

“Dari arti yang terangkat

Buaian kekal jatuhkan akal menjadi bebal

Dan kita tak pernah benar-benar melihat wujudnya

Tabu kuasai tanya, benarkah dia di sana?”

“Sabda” bisa jadi anthem perlawanan bagi para Brood (Breath of Fire) dan Half-Elf (Tales of Phantasia). Mereka adalah kaum-kaum tertindas di semesta masing-masing. Mungkin liriknya bisa diganti dengan “pasal beralas bentuk telinga/rambut”.

Kalau memerhatikan vokal Afif (Mustache and Beard), Anda mungkin akan paham apa yang saya maksud dengan “tekanan perkata” di paragraf awal. Cara bernyanyi Afif lebih mengayun dibanding gaya Tashoora (kecuali pada “Terang”) biasanya. Sayangnya, saya tidak menemukan suara suling logam Afif dalam lagu ini. Kalau saja ada, para Brood dan Half-Elf mungkin akan lebih merasa relevan.

Setelah merasa tertekan oleh enam trek dengan suasana “minor”, akhirnya “Ruang” muncul sebagai penyegaran. Nuansa yang dihadirkan terasa seperti lagu-lagu tema kota, khususnya di Chrono Cross, di mana kita bisa memperlengkap item dan menginap di inn. Walaupun dibuka dengan nuansa minor kecak khas Rubah di Selatan yang dicampur potongan lagu, suara gemas Melinda selanjutnya lebih mengingatkan saya pada Petualangan Sherina dibanding Gejayan Memanggil. Ini membuat saya lupa untuk menelaah tema perlawanan apa yang coba diangakat Tashoora dalam lagu ini.

Suasana se-“mayor” ini sebenarnya bisa ditemukan dalam “Terang”, namun liriknya yang berat khas Barasuaran wave membuat saya tidak setenang berada di kota-kota RPG yang tak bermonster. “Terang” lebih cocok mengiringi kita grinding di world map.

Sama seperti “Terang”, “Surya” cocok dijadikan lagu world map. Akan tetapi, nomor ini merupakan pengantar sebelum melawan raja terakhir atau mencari bos-bos bonus di end game.

“Cendekia terbungkam ayat

Fasih bicara akhir hayat

Fana selimuti nalarnya

Bisu bicara nyata nirwana”

Sekarang saatnya bos terakhir. “Hitam” mengingatkan saya pada Tales of Destiny. Gim yang dimulai tidak jauh dari kastil-kastil kerajaan kini diakhiri dengan melawan Kronos di suasana intergalaktik. Ini kerap terjadi di berbagai RPG dan “Hitam” mewakili itu dari segi musik. Tidak begitu tapi cukup. Lagu ini masih Tashoora dalam HJCHBG dengan nuansa yang lebih … “menyengat” mungkin? Liriknya tentu masih konsisten.

Sebelumnya, saya telah mengutip potongan-potongan lirik dari beberapa lagu. Hal yang saya rasakan saat mendengar potongan lirik tadi hampir sama dengan rasa yang dirasakan saat menamatkan Breath of Fire III atau Final Fantasy X.

Kedua gim tersebut punya kesamaan di sisi tujuan cerita, melawan otoritas yang salah dan dalam hal ini menyangkut kepercayaan. Saya sempat merasa bersalah saat mengalahkan Myria, sang dewi yang selama ini melindungi dunia di Breath of Fire III. Walaupun ia menggenosida para Brood, tapi ia mengaku melakukan hal tersebut untuk kebaikan makhluk lain. Karena itu, saya merasa sedikit egois saat mengalahkan Myria sebagai Ryu yang merupakan seorang Brood, karena bisa saja saya hanya melaksanakan misi balas dendam kaumnya.

Antagonis semacam ini membuat Thanos terlihat overrated di mata saya karena saya sudah melihat penjahat-penjahat yang cukup bermotif sejak zaman main PS1 dan PS2, Myria (Breath of Fire III) dengan kasih sayangnya, Seymour (Final Fantasy X) dengan janji pelepasan derita dunianya,  Dhaos (Tales of Phantasia) yang menjadi penjahat di planet lain sekaligus pahlawan di planet sendiri, dan lain-lain.

Rasa bersalah yang sebelumnya saya rasakan juga muncul saat melihat Yuna yang muncul dengan penampilan lebih binal di Final Fantasy X-2 di mana Yevon kehilangan banyak kepercayaan dari warga Spira setelah Sin dikalahkan.

Untung saja, saya sadar semua itu kisah fiksi, jadi cerita setelah kepercayaan di semesta masing-masing diruntuhkan bisa dibuat lebih menyenangkan. Dengan begitu, saya masih bisa percaya pada kepercayaan saya yang belum terbukti salah atau benar.

Seperti itu lah kira-kira yang saya rasakan saat mendengar album Tashoora. Seorang yang sesekali masih ibadah lima waktu, berburu pahala dan mengejar surga. Ada nuansa-nuansa menantang akhirat yang bertolak belakang dengan hati nurani, namun kalau dipikir benar juga di sana. Ya, karena kita adalah barisan manusia-manusia yang terlempar ke peradaban ini. Dibekali dengan batasan akal dan pikiran, juga hukuman ataupun hadiah atas apa yang kita jalani. Pasti pergolakan batin akan sering terjadi.

Lirik-lirik dari para penganut Barasuaran wave memang akan membuat beberapa pendengar, mengutip teman sekantor saya dulu, “merasa digurui”. Liriknya yang kadang sesosial realis para titisan Lekra masa kini dan kadang lebih berkiasan, namun tetap tajam memang akan mengganggu beberapa telinga, baik yang setuju, tidak setuju, maupun setengah setuju, setengah tidak setuju dengan mereka.

Seterganggu apa pun telinga mendengar lirik mereka, tidak bisa dipungkiri bahwa pesan para penganut gelombang ini ada, bahkan banyak benarnya. Tashoora dan kawan-kawan dari Barasuaran wave seperti kita yang bermain sebagai Ryu dari kaum Brood yang ditindas oleh Myria, yang bisa dianalogikan sebagai Tuhan dalam Breath of Fire III.

Ini mengapa paragraf keempat dalam tulisan ini penting. Saya ingin menyampaikan bahwa, seperti tulisan ini, lirik yang dibawakan Tashoora dan kaumnya adalah pendapat satu sisi. Jika Anda merasa terganggu oleh karya-karyanya, Anda bisa menjadikan pendapat semacam itu sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki penerapan (tidak harus jauh-jauh sampai penafsiran) ajaran Anda. Jika Anda begitu setuju dengan mereka, mungkin Anda harus sadar bahwa berpikir begitu bebas bisa jadi salah satu bentuk privilese. Jika Anda tidak terlalu peduli, maka Anda cocok dengan saya. Jangan jadikan pendapat satu sisi menjadi otoritas (mungkin bisa dipahami di sini) cara berpikir Anda.

Termasuk golongan apa pun Anda, ayo coba bermain Breath of Fire IV! Gim ini punya kemungkinan (kecil) melatih Anda untuk bisa meng-equip dan unequip konstruksi yang tertanam di kepala Anda dengan mengikuti sisi protagonis dan antagonis dalam satu cerita sekaligus. Serial Golden Sun juga mungkin bisa membantu. Intinya adalah melatih Anda untuk berpikiran terbuka. Terbuka ke segala arah dan menjadi realitivis budaya cinta damai, karena berpikiran terbuka bukan hanya tentang berlangganan Orang Tua di gig dan pamer pengalaman orgy di thread akun alter. 

 

 

 

Penulis: Abyan Nabilio

Editor: Antie Mauliawati