Bicara Musik

Musik dalam Anime Shinichiro Watanabe
  • By : admin
  • 13 February 2020

Musik dalam Anime Shinichiro Watanabe

Bicaramusik.id – Anda yang suka anime atau budaya Jepang pasti pernah mendengar secuil dua cuil lagu di atas. Tapi bukan Anda yang dengan bangga menyebut dirinya otaku, bukan Anda yang langsung turun ke lapangan tiap sore untuk membuat 1000 tembakan setelah menonton Ahiru No Sora, dan bukan juga Anda yang waktu SD-nya sempat membawa bola ke mana-mana karena Tsubasa bilang, “Bola adalah teman.” Lebih pada Anda yang memang mengikuti serial Jepang karena memang itu keren dan membuat Anda merasa sungguh amat begitu sangat cultured sekali. Khususnya, Anda yang mengikuti anime setelah Netflix memasukkan beberapa animasi Jepang ke dalam katalognya.

Ini memang beralasan karena serial animasi yang dibuka oleh cuplikan di atas merupakan salah satu yang membuka mata dunia Barat akan keberadaan anime . Ini lah Cowboy Bebop besutan Shinichiro Watanabe pada 1998.

Alih-alih menggunakan lagu pop Jepang (dengan vokal) untuk membuka tiap episode serialnya, Watanabe justru menggunakan komposisi blues bercampur jazz bejudul “Tank” yang terdengar seperti improvisasi antara contra bass, brass section, dan perkusi. Hal tersebut jarang ditemukan dalam animasi Jepang saat itu. Coba saja bandingan dengan lagu pembuka untuk serial yang munculnya berdekatan, seperti Cardcaptor Sakura, Yu-Gi-Oh!, Record of Lodoss War: Chronicles of the Heroic Knight, atau Initial D. Mungkin hanya Trigun yang menggunakan komposisi rock kekoboi-koboian di masa berdekatan.

Ciri khas Watanabe memang, salah satunya, berada di pilihan musik yang ia padukan dengan scene-scene di animasinya. Kenapa? Karena cara bekerja Watanabe memang bisa diibaratkan dimulai dari musik. Ini diakui oleh salah satu rekan kerjanya, Dai Sato (salah satu penulis skenario untuk Cowboy Bebop dan nantinya Samurai Champloo). Dalam sebuah wawancara, Sato mengatakan bahwa saat sutradara lain bicara panjang lebar soal jalan cerita, Watanabe memilih untuk memperbincangkan musik apa yang akhir-akhir ini ia dengarkan. Setelah itu, menurutnya, semua bergerak melalui insting.

Keunikan dalam musiknya merembet pada aspek lain dalam animasi sutradara asal Kyoto ini. Cowboy Bebop, misalnya, menggabungkan beberapa genre film dan memadukannya dengan musik jazz bercampur blues. Ada sphagetti western, sci-fi, kung-fu Hongkong, ditambah noir di sana. Ini mungkin karena pembuatnya memang banyak terpapar film barat. “Saya tumbuh dengan film Amerika Serikat,” katanya saat ditanya oleh Animenewsnetwork.com mengenai referensinya. Ya kan? Spike Spiegel sebagai pencari hadiah luar angkasa terlihat seperti karakter Clint Eastwood dengan gerakan Bruce Lee yang menunggangi Milennium Falcon.

Hobi Watanabe menggabungkan banyak unsur kembali terlihat dalam karyanya selanjutnya, Samurai Champloo pada 2004. Penggabungkan antara musik hip hop nan chill dan samurai zaman Edo memang terdengar tidak kalah absurd dengan kombinasi jazz, sci-fi, dan koboi. Gagang katana yang dijadikan mikrofon untuk beatbox, samurai yang bermain baseball, dan kebakaran kebun yang membuat mabuk menjadi bukti bahwa Watanabe mahir dalam membuat ketidaksinambungan yang bisa dinikmati.

Untuk Samurai Champloo, ia bekerja sama dengan beberapa musisi seperti produser Nujabes dan rapper asal Amerika Serikat, Fat Jon tapi tentu yang menjadi sorotan dalam serial ini adalah progresi-progresi akor dan sound chill khas Nujabes.

Walaupun pada serial keduanya ia berkolaborasi bersama Nujabes, sebenarnya penyusun musik langganan Watanabe adalah seorang komposer bernama Yoko Kanno. Ia yang mengerjakan musik untuk Cowboy Bebop dan banyak karya Watanabe ke depannya. Watanabe dan Kanno merupakan duo sutradara-komposer yang sulit dipisahkan. Bisa dihitung jari mungkin karya Watanabe tanpa Kanno sebagai komposernya. Keduanya seperti Chris Nolan dan Hans Zimmer atau Tim Burton dan Danny Elfman.

Kanno kembali terlibat dalam serial animasi Watanabe, Kids on the Slope, pada 2012. Jika sebelumnya Watanabe bekerja pada karya orisinilnya, pada 2012, akhirnya ia mengerjakan sebuah anime adaptasi dari manga (komik Jepang) dengan judul sama ciptaan Yuki Kodama. Kemungkinan besar, alasan Watanabe dipilih untuk membuat adaptasi ini adalah keunggulannya memasukkan musik yang cocok untuk animasi. Kids on the Slope sendiri merupakan kisah dua musisi muda, Kaoru Nishimi (piano) dan Sentarō Kawabuch (drum) yang dipersatukan oleh musik jazz dengan latar masa 1966. Jazz menjadi unsur penting dalam jalannya cerita. Anda bisa mendengarkan beberapa jazz standard seperti “Lullaby of Birdland”, “Moanin’”, “But Not for Me”, dan “My Favorite Things” dalam serial ini. Referensi kepada tokoh-tokoh jazz seperti Bill Evans, Chet Baker, dan Chris Connor juga banyak ditemukan.

Pada 2014, Watanabe kembali dengan serial yang bisa dibilang kacau (ke arah yang baik), Space Dandy. Anda penggemar Gintama mungkin akan cocok dengan anime ini. Banyak unsur yang terasa hasil dari dekonstruksi anime kebanyakan dalam Space Dandy. Karakter yang mati di episode sebelumnya bisa saja sekonyong-konyong muncul dan menjalani hidup secara normal di episode selanjutnya. Ditambah lagi istilah “breastaurant” yang sudah bisa dibayangkan bagaimana wujudnya.

Space Dandy merupakan versi ekstrem dari karya-karya Watanabe sebelumnya. Untuk mengikuti Cowboy Bebop atau Samurai Champloo, khalayak tidak perlu menonton setiap episode karena story arc-nya hanya berjalan di beberapa episode. Namun, setiap filler-nya punya petunjuk untuk mengenal setiap karakter lebih baik karena Watanabe memang lebih berfokus pada pembangunan karakter dan/atau latar dunia dibanding jalan cerita. Karena itu, episode dalam Cowboy Bebop misalnya, tidak disebut sebagai episode melainkan session, seperti jamming session bagi para musisi. Untuk Space Dandy sendiri, Watanabe mengibaratkannya sebagai festival musik di mana setiap episode dapat diibaratkan sebagai para pengisi acaranya karena cerita dan gaya yang berbeda. Namun, walaupun terlihat tidak ada hubungannya di awal, nantinya akan terkuak bahwa setiap episode Space Dandy merupakan kejadian yang saling terkait.

Dalam Space Dandy, semua episode terlihat berbeda. Watanabe berkolaborasi bersama animator, penulis cerita, dan produser musik yang berbeda setiap episodenya (Yoko Kanno menyumbang lagu penutup dan empat trek lainnya). Ini dimaksudkan agar setiap alien yang ditemui Dandy (yang bekerja sebagai  pengisi semacam ensiklopedia alien) terlihat “alien” untuk diri masing-masing. Watanabe membiarkan timnya untuk berkreasi sebebas mungkin dengan catatan scoring musiknya harus masuk dalam kategori pra-1984. Walaupun ada sedikit scoring khas Hawaii yang cocok dengan pompadour Dandy yang serupa Elvis Presley, tapi latar musik Space Dandy didominasi bebunyian discotheque yang mengajak bergoyang. Suara Junk Fujiyama dan musik pengiring dalam “Stardust Pipeline” (episode 6) malah mengingatkan telinga pada Tatsuro Yamashita karena memang discotheque dengan tempo sedang tanpa filter suara robot serupa dengan city pop.

Tim Space Dandy juga membuatkan klip animasi untuk lagu yang dijadikan opening, “Viva Namida”. Dalam klip tersebut, versi animasi sang penyanyi, Yasuyuki Okamura, berdansa dengan segala gerakan andalannya bersama Dandy dan kawan-kawan.

Pada tahun yang sama, Watanabe juga mengerjakan Terror in Resonance. Berbeda dengan beberapa judul Watanabe sebelumnya yang punya ciri khas musik yang khusus (Cowboy Bebop dengan blues, Samurai Champloo dengan hip-hop, Kids on the Slope dengan jazz, dan Space Dandy dengan disco), tidak ada genre musik khusus yang terdengar di sini. Musik dalam Terror in Resonance banyak berkutat pada bebunyian elektronik yang menekan dengan dominasi nada-nada rendah ditambah vokal falset.

Watanabe mengaku memang tidak ada genre spesifik yang dipilih. “Saya berdiskusi dengan Yoko Kanno nuansa macam apa yang kami inginkan. Bayangan yang muncul untuk musiknya adalah dingin, musik dengan temperatur rendah,” jelasnya tentang proses pemilihan musiknya bersama Kanno dalam pengerjaan Terror in Resonance kepada Otakunews.com.

Walaupun begitu, ia memiliki satu inspirasi khusus untuk serial tersebut, yaitu Sigur Rós. Watanabe mengatakan bahwa album kompilasi Hvarf/Heim merupakan favoritnya dari grup rock avant garde asal Islandia tersebut. Bahkan, untuk mendapatkan nuansa Sigur Rós, ia dan timnya merekam langsung musik untuk Terror in Resonance di Islandia. Watanabe berniat untuk bekerja sama langsung dengan Jónsi dan kawan-kawan tapi urung karena tahu pasti akan mahal.

“Saya banyak mengambil inspirasi dari musik. Banyak sekali momen di mana saya sedang mendengar musik dan musik tersebut memberi saya bayangan atau ide untuk sebuah adegan,” tuturnya tentang bagaimana Sigur Rós menginspirasinya serial animasi 2014 tersebut melalui wawancara bersama Otakuusamagazine.com. “Saat saya sedang mendengarkan Sigur Rós, saya mendapatkan bayangan visual dua orang remaja berdiri di reruntuhan sebuah kota dan itu akhirnya menjadi ide awal Terror in Resonance.”

Animasi terakhir yang ia kerjakan adalah Carole & Tuesday. Serial ini adalah sebuah drama soal duo musisi, Carole (keyboard, vokal) dan Tuesday (gitar, vokal), beda dunia yang dipertemukan oleh takdir untuk mengarungi kancah musik Mars. Dalam 24 episode yang berlangusung dari April hingga Oktober tahun lalu tersebut, Watanabe bekerja sama dengan beberapa musisi internasional seperti Alison Wonderland, Flying Lotus (FlyLo), dan Thundercat.

Seperti Cowboy Bebop, setiap judul episode Carole & Tuesday diambil dari judul lagu. “Every Breath You Take” dari The Police, “Dancing Queen” dari Abba, “God Only Knows” dari Beach Boys, “Immigrant Song” dari Led Zeppelin, dan “Only Love Can Break Your Heart” dari Neil Young muncul sebagai contoh.

Carole & Tuesday menawarkan beragam warna musik. Anime ini mencoba menggambarkan kehidupan di industri musik dengan latar dunia yang fiksi. Penggambaran ajang pencarian bakatnya pun begitu relevan dengan dunia kita, di mana, gimik-gimik pesertanya mungkin cocok untuk masuk video “Top 5 Terngakak Indonesian Idol”. Gimik tersebut tentu disesuaikan dengan keadan Mars versi Carole & Tuesday.

Ada nuansa yang sama di setiap animasi hasil besutan Shinichiro Watanabe. Penikmat setianya kemungkinan besar bisa menduga bahwa suatu animasi adalah hasil kerja Watanabe tanpa harus melihat credit title-nya terlebih dahulu. Entah itu dari unsur musik yang kuat, pembangunan karakter dan dunia, adegan-adegan aksi, atau bahkan kesamaan antara karakter di serial yang satu dan yang lainnya, seperti Spike Spiegel dan Mugen. Karena itu, Watanabe berhak untuk mendapat gelar auteur.

Menurut  Constantine Santas dalam buku Responding to Film: A Text Guide for Students of Cinema Art, auteur adalah seniman, biasanya sutradara film, yang menerapkan banyak kontrol subjektif terhadap banyak aspek dalam suatu kolaborasi karya kreatif, dengan kata lain, seseorang yang sederajat dengan penulis novel atau drama. Karena itu, sutradara yang disebut auteur biasanya punya gaya yang dengan mudah dikenali orang, seperti kebanyakan animasi Watanabe.

Watanabe juga sering disamakan dengan auteur lain. Ia sering kali disebut sebagai Quentin Tarantinonya anime. Selain musik yang kuat di setiap karyanya (saat orang mendengar lagu sedikit surf atau noir-noir koboi, biasanya mereka akan bilang, “Kalau Tarantino dengar pasti jadi soundtrack filmnya,”) mereka ternyata punya latar belakang yang mirip juga. Tarantino terkenal sebagai sutradara yang tidak mengenyam pendidikan perfilman. Pengetahuannya soal film kebanyakan ia dapatkan saat bekerja sebagai penjaga toko penyewaan video. Watanabe juga begitu. “Kebanyakan pengetahuan saya mengenai produksi dan pengarahan film saya pelajari sendiri. Saya membaca banyak buku tentang teknik dan teknologi film di mana saya mendapat pengetahuan dasarnya,” ujar Watanabe dalam wawancara bersama Otaquest.com. “Tidak ada sistem pendidikan yang mumpuni untuk sutradara di industri anime saat itu.”

Sebagai Pengarah Musik dan Film Pendek

Ke-auteur-annya (tak apa sedikit maksa yang penting terlihat pintar)  tidak hanya terasa di serial animasi yang ia buat. Kalau Anda menonton Michiko & Hatchin, selain merasa bahwa ini anime yang mungkin dibuat oleh Watanabe dari segi musik, Anda mungkin merasa kekeraskepalaan Michiko dalam mencari kekasihnya setara dengan Spike. Walaupun tidak menjadi sutradara, ia adalah produser musik dari serial tersebut. Selain Michiko & Hatchini, Watanabe juga mendapat peran serupa untuk serial Lupin the Third: The Woman Called Fujiko Mine dan film panjang Mind Game.

Watanabe juga sempat membuat beberapa film pendek. “Detective’s Story” dan “Kid’s Story” yang merupakan bagian dari omnibus The Animatrix pada 2003 mungkin menjadi film pendek pertamanya. Pada 2008, ia mengisi omnibus lain, Genius Party, untuk bagian penutup yang berjudul “Baby Blue”. Pada 2017, Watanabe ditunjuk untuk membuat salah satu dari tiga film pendek pengisi prequel Blade Runner 2049. Hasil besutannya, Blade Runner Black Out 2022, merupakan satu-satunya yang berbentuk animasi.

“Baby Blue” mungkin terlihat seperti karya Makoto Shinkai (5 Centimeters per Second, The Garden of Words, Your Name, Weathering with You), namun percayalah film tersebut dibuat berdekatan dengan film yang mengangkat nama Shinkai dengan gaya khasnya, 5 Centimeters per Second. Selain itu, kombinasi aksi dan musik saat kejar-kajaran sepeda di “Baby Blue” begitu ke-Watanabe-Watanabe-an.

Hubungan dengan Budaya Barat

The Animatrix merupakan kumpulan film pendek yang menceritakan beberapa kisah yang diinspirasi oleh trilogi The Matrix, diproduseri langsung oleh Wachowski bersaudara. Dengan kata lain, dua judul Watanabe yang sudah dibahas sebelumnya mungkin menjadi kerja sama pertamanya dengan dunia Barat. Namun, semua tetap bermula dari Cowboy Bebop.

Cowboy Bebop tayang pertama kali di Amerika Serikat pada 2001. Serial tersebut menjadi anime pertama yang masuk dalam jam malam Cartoon Network, Adult Swim. Cowboy Bebop bisa dibilang sukses karena ditayangkan berturut-turut selama empat tahun.

Watanabe mengaku ia memang dipengaruhi banyak unsur dari budaya Barat dalam pekerjaannya. Ini terbukti dari betapa jauhnya musik yang ia gunakan dalam animasinya dari musik J-Pop kebanyakan. Namun, ia ternyata membawa pengaruh besar bagi beberapa nama besar di Amerika. Aaron McGruder (animasi tentang kulit hitam, The Boondocks), Bryan Koneitzko (Avatar: The Last Airbender, The Legend of Korra), bahkan Rian Johnson (Brick, Looper, Star Wars: The Las Jedi, Knives Out) sama-sama mengakui bahwa aksi yang dibawakan Watanabe dalam animasinya menginspirasi mereka.

Sebelumnya, telah dibahas bahwa Watanabe bekerja sama dengan Flying Lotus untuk Carole & Tuesday. Kerja sama mereka tidak berhenti di sana. Produser, DJ, sekaligus rapper Amerika Serikat ini juga membantu Watanabe untuk mengisi musik dalam Blade Runner Black Out 2022. Watanabe juga sempat membuatkan klip animasi untuk lagu Flying Lotus bersama Anderson .Paak, “More” pada 2019. Lagu tersebut masuk dalam album eksperimentalnya, Flamagra.

Kini, Shinichiro Watanabe sedang mempersiapkan 13 episode untuk meramaikan franchise Blade Runner dengan serial lanjutan dari Black Out, Blade Runner: Black Lotus. Selain itu, Netflix juga sedang mengerjakan serial live action untuk Cowboy Bebop.

 

Penulis: Abyan Nabilio