Bicara Musik

Konser Iwan Fals “Nyanyian yang Tersimpan” Lebih Intim dan Hangat
  • By : admin
  • 20 December 2018

Konser Iwan Fals “Nyanyian yang Tersimpan” Lebih Intim dan Hangat

Bicaramusik.id – Sebagian dari kita khususnya para penikmat musik sontak tahu bahwa pengalaman menonton konser sekelas Iwan Fals akan jauh berbeda dari biasanya.

Hiruk pikuk konser Iwan Fals yang biasa dipadati ribuan Orang Indonesia (OI) kali ini justru sangat berbeda. “Nyanyian yang Tersimpan” yang berlangsung di Livespace SCBD, Jakarta, jauh lebih intim dan hangat.

“Nyanyian yang Tersimpan” berhasil membuat kita semua menebak-nebak lagu seperti apa yang akan dibawakan. Tema “Nyanyian yang Tersimpan” merupakan gambaran dari sebagian besar lagu yang di mana pada jaman orde baru ini tak sempat terpublish dan mendapat istilah lagu “ghoib”.

Membuka konser malam itu dengan bermain gitar akustik bersama bandnya dan melantunkan salah satu lagu “ghoib”-nya pada dekade 80-an yaitu “Terbuka”. Iwan mengenakan celana panjang hitam, jaket hitam dengan dalaman kemeja putih serta topi ciri khas Che Guevara. Ini mengingatkan kita semua bahwa sosok Iwan Fals sudah tak muda lagi dan jauh lebih rapi dibandingkan penampilannya pada dekade 1980-an & 1990-an.

Beliau pun banyak bercerita tentang lagu-lagunya yang tidak lolos sensor. Tak lama kemudian, berkumandanglah nomor-nomor klasik bertitel “Iya atau Tidak”, “Aku Sayang Kamu”, dan “Nona”. Kemudian diselipkan lagi dengan lagu yang tersimpan tapi tersebar pula entah bagaimana caranya yang berjudul “Annisa”. Menurut beliau lagu ini di ciptakan untuk peristiwa di Cilandak & Tg.Priok pada tahun 1984.

“Bunga kayu di Beranda” dan “Berkacalah pada Genangan Hujan” adalah bagian dari cerita hidup beliau yang sempat tinggal di Bintaro selama 3 tahun dan melihat apa yang ada di sekitar pelataran rumahnya.

Seisi ruangan semakin pecah ketika Iwan Fals membawakan karya-karya populernya seperti “Serdadu”, “Mimpi yang Terbeli”, dan “Pesawat Tempurku”.

Dibalik keriuhan dan euforia bernyanyi bersama, Iwan Fals selalu menyelipkan pesan di setiap lagu dan konsernya. Terutama di lagu “Harapan Tidak Boleh Mati” yang ia ciptakan saat tragedi Tsunami di Aceh tahun 2006 silam.

“Nyatakan saja”, “Adalah” & lagu bebas menjadi baris dari lagu terakhir dalam tajuk “Nyanyian Yang Tersimpan” milik Iwan Fals. Kemudian ditutup oleh “Untukmu Indonesia” sebagai pertanda komitmen & dedikasi Iwan fals untuk Indonesia.

Kiranya Iwan Fals tetap tajam & kritis di masa keterbukaan ini. Salam Bongkar!!!