Bicara Musik

Jadi Tua Itu Menyebalkan di Konser 35 Tahun Slank
  • By : admin
  • 27 December 2018

Jadi Tua Itu Menyebalkan di Konser 35 Tahun Slank

Bicaramusik.id – Upaya menyamakan ritme dengan laju milenium telah menuntut kita agar selalu punya kemampuan bergerak cepat, zaman serba gampang yang membuat seluruh generasi yang tersisa harus berpikir dan bertindak dengan cara-cara baru bila tidak ingin terberangus.

Menjadi ikan paus bukan dinosaurus, dan kata instan berkonotasi keburukan bagi peradaban. Kita semua para manusia yang terburu-buru, narsistik dan kehilangan jiwa dalam ajang pencarian kehidupan yang lebih bermakna selama 18 tahun berlalu sejak 2000.

Jadi tua itu menyedihkan. Slank, band rock & roll terbesar dalam sejarah negeri ini mengalaminya saat merayakan usia yang ke-35 tahun di Stadion Gelora Bung Karno (23/12) kemarin. Momen besar itu awalnya prima – 3 sampai 4 lagu awal sampai sebelum Ivanka menyempilkan sepatah dua patah kata ‘ceramah’ agama yang sempat membuat suasana canggung di hadapan kehadiran puluhan ribu Slankers. Tidak bermaksud alergi terhadap agama tapi sang bassis sepertinya telah melakukan sesuatu tidak pada waktu yang tepat; mengapa kecenderungan orang-orang yang beragama selalu saja ingin berkhotbah? Tidak bisakah mereka menahan diri?

Tapi hal tersebut segera terlupakan seketika ingat seluruh stadion menyanyikan tembang nyaring dari tahun 1996 berjudul Tonk Kosong. ‘Terserah mereka kalian atau saya, asal nggak ngelanggar hukum biarkan saja . . . Tong-tong kosong mending pada diam, biar dunia tentukan pilihan . . . yang mana yang benar, yang mana yang baik daripada elo jadi . . . tong kosong,’ begitu liriknya berbunyi. Ini merupakan kali kedua Slank merayakan ulang tahun di GBK, yang pertama terjadi di usia 30 dan sekarang lima tahun kemudian dengan kondisi mental yang kian matang berkompromi.

Sudah dari lama Slank memberi keskeptisan secara pribadi, perlahan semenjak satu per satu personelnya mulai menemukan jalan kebijaksanaan masing-masing. Kompak sembuh dari jerat narkotik adalah pintu gerbangnya, bahkan Bim-Bim, dramer yang membentuk grup ini di tahun 1983 dan pada sepanjang 90-an dianggap sebagai ikon junkie sejati telah lama berhenti merokok dan minum miras.

Kaka menyusul bersih setelahnya dan giat dalam berbagai aktivisme lingkungan, lalu Ivanka yang menemukan kembali arti hidup melalui mimbar religi. Sementara Abdee Negara, gitaris flamboyan itu jatuh sakit beberapa tahun terakhir sampai harus berhenti tampil di panggung. Hanya Ridho Hafiedz yang sedari awal tidak pernah menjadi pecandu yang relatif stabil.

Gaya hidup sehat sedikit banyak telah mempengaruhi cara berpikir mereka sebagai seniman rock. Kampanye klasik tentang perdamaian yang awalnya bersifat netral namun kritis dan pro-aktif mulai tercemar oleh keberpihakkan. Fungsi keseimbangan Slank jadi berat sebelah. Bersahabat – dan lebih parah lagi – menyokong politisi tertentu.

Mereka sendiri dan tentu saja, para politisi itu sadar kekuatan massa yang dimiliki. 10% rakyat Indonesia dicurigai sebagai Slankers yang loyal dan patuh pada perkataan idolanya. Jika saja Bim-Bim meminta mereka untuk golput maka kemungkinan besar 10% kotak suara pemilu akan kosong. Tapi yang terjadi . . . semua tahu bahwa Slank telah menyatakan diri mendukung kubu Joko Widodo – zonk, betapa beruntungnya beliau.

Politik adalah umpan kucing di kandang singa, sah-sah saja memang, toh kita semua termasuk spesies karnivora yang rakus dan cari selamat. Dengan keberpihakkannya, tidak heran bila keistimewaan Slank yang dulu terkenal sering menyentil pemerintah atas berbagai urusan yang belum selesai melalui lagu macam Gossip Jalanan atau Siapa Yang Salah atau Birokrasi Complex terbukti telah hilang di lima tahun terakhir, dan selanjutnya akan hilang dalam lima tahun ke depan jika Jokowi menang. Ditambah single religi, ah selesailah sudah.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda,” kata mendiang Tan Malaka. Sial, jadi tua itu melemahkan.

Politik tetaplah politik. Tidak ada pemerintah yang tidak pernah menyembunyikan dosanya. Jangan naif, apalagi sampai punya benak udang di balik batu. Slank atau siapa pun seniman yang sudah berkecimpungan selama puluhan tahun di bidangnya, selalu akan bilang ingin melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan – dalam kasus anak-anak Potlot ini, di luar musiknya, ya mungkin berpihak adalah hal yang belum pernah dilakukan.

Tapi saya menghargai bahwa Slank tetap jujur pada diri sendiri – jujur karena mereka tidak lagi merasakan apa yang dulu pernah mereka rasakan. Kekayaan telah memapankan mereka, menghilangkan emosi sebagai minoritas dan pihak yang terpinggirkan layaknya penyair malam yang lapar atau antrian pencuri yang timbul sebab nasinya dicuri.

Sehingga kemunculan Presiden Jokowi – cekingnya persis Bim-Bim di tahun 1997 minus gigi rusak dan lobak hitam kantung mata – di layar panggung pertunjukan malam itu menjadi sangat penting demi mengukuhkan posisi di mana mereka berdiri sekarang. Oportunis? Entahlah, tidak baik untuk berburuk sangka, lebih-lebih lagi menghakimi atau menuduh. Biar barisan penonton VVIP bersama pasukan Paspampres yang menjawabnya saja.

Yang indah, konser dibuka dengan empati mendalam melalui alunan piano dari tamu bernama Christabel Alora mengiringi bahana Gelora Bung Karno menyanyikan balada iris hati, Menyakitimu medley Anyer 10 Maret yang tak kuasa ditahan oleh merindingnya bulu tengkuk. Manis sekali pesta ulang tahun ini dimulai. Kemudian Kaka memimpin hening cipta untuk mereka yang tersapu tsunami di sepanjang pesisir Anyer, Carita, Tanjung Lesung dan Lampung Selatan semalam sebelumnya. Purnama bersinar sempurna di leher malam ketika suasana runduk tetap bertahan dengan dimainkannya Solidaritas, sebuah lagu yang memiliki bait paling berarti menuju akhir: ‘Apa harus tunggu bencana baru dunia bisa bersatu?’

Cinta adalah bahasa Slank dalam menghadapi dunia. Bukan saja tentang asmara, tapi juga kemanusiaan. Di antaranya mereka pernah menulis Desersi pada tahun 1999 untuk para tentara yang lelah menembaki rakyat sendiri. Missing Person (Trend Orang Hilang) menyahuti penculikan aktivis. Lalu Lembah Baliem di album Virus, ode bagi suku-suku terbelakang Papua. Bendera ½ Tiang yang menangisi korban pembantaian nafsu kuasa. Ada juga Anti Nuklir yang ‘kecekek’ reggae dan sorotan skandal ganja tukar senjata di lagu dengan lirik frontal berjudul Atjeh Investigation. Serta sebuah kidung tanpa titel – hanya bertulis simbol tiga titik bisu dari era Pay, Bongky, Indra Q masih bergabung di album Generasi Biru yang menyatakan keinginan agar dunia berputar dengan damai dan tenang.

Di GBK Slank berusaha merangkum diskografi selama 35 tahun yang telah mencapai 22 album penuh. Lagu lama yang dibawakan pada awal konser malam itu termasuk Mawar Merah dan Kirim Aku Bunga. Sejumlah bendera sesuai tradisi di mana pun Slank melakukan pertunjukan dikibarkan, dari kerumunan paling depan hingga puluhan meter ke belakang. Di kelas tribun bendera-bendera juga bergelantungan, atau dibentangkan sebagai identitas wilayah domisili para Slankers yang berdatangan.

Beberapa yang terbaca: Kroya, Kebumen, Cilacap, Citayam, Kalideres, Tegal, Pekalongan, Bekasi, Wonosobo, Temanggung, Brebes, Pemalang, Bojonegoro, Cikarang, Majalengka, Pati, Demak, Purwodadi dan terus menyebar tak terhitung lagi. Ribuan telah berbondong hadir sejak H-1 dan tidur beralas aspal Senayan.

Itulah wajah Slank sebenarnya, wajah kampungan yang merasa terbela oleh rock & blues slengean di tengah jepitan nasib bagai bantaran sungai Ciliwung. Wajah kemiskinan Indonesia. Wajah Udin, Boy, Jerry dan Jinna yang hidup bersama kita di dalam potret arus bawah masyarakat bersaku jelata. Slank menyanyikan harapan buat mereka, bersambut kesetiaan tak terbatas.

Ketika diumumkan bahwa tiket konser ini hanya dijual secara daring, muncul keraguan apakah sepenuhnya Slankers akan mampu menyesuaikan? Tentu saja tidak. Pula sebagian banyak yang masih tetap saja menunggu belas kasihan panitia agar dapat nonton gratis. Pintu festival A akhirnya dibuka, dan dari laporan pandangan mata sekitar, para fans itu berlarian masuk seperti anjing haus hiburan, dekil pun tak peduli.

Di atas panggung I Miss You But I Hate You, Orkes Sakit Hati, Seperti Para Koruptor, Sosial Betawi Yoi dan Gara-Gara Kamu tuntas ditampilkan. Bintang tamu bergantian menjadi duet Kaka; Marion Jola di Pandangan Pertama, Aurelie Moeremans di Balikin dan Eva Celia yang tergagap siaran langsung televisi melagukan tembang favorit saat kedinginan, Terbunuh Sepi. Semuanya perempuan, termasuk dramer Rany Ramadhany yang mengiringi nyanyian pelo-basian anti-depressant lidah Bim-Bim saat cadel menyenandungkan Oh, Reny, lagu teruntuk istrinya.

Jika Abdee merupakan nyawa blues bagi Slank, maka Ridho adalah karang rock & roll-nya. Gitaris kalem itu diberi sesi atraksi solo cukup panjang, dan dia melakukannya bak Blues Saraceno dalam pengaruh Hendrix bercawat Pele legenda Brazil. Ridho seakan mendapatkan peran yang selama ini gemas ingin dibuktikannya, bahwa dirinya bukanlah pemain gitar kedua melainkan setara dengan Abdee. Itu cuma masalah pembagian tugas saja. Di album terakhir, Palalopeyank, Ridho menunjukkan taji dengan garukan gitarnya yang menyentuh level standar hard rock seperti halnya Angus Young ketika dibiarkan bermain sendiri. Dua lagu dari album itu yang dimainkan ialah Ngerock dan Orang Merdeka.

Sementara Abdee dimunculkan di panggung menjelang penghabisan membawakan di antaranya Makan Gak Makan Asal Kumpul dan Ku Tak Bisa. Bicara Abdee berarti bicara karakter serta kharisma gestur seorang blueser yang gemulai memetik gitar bersama hati dan jiwanya. Namun kita tidak punya banyak kesempatan lagi hari ini, melihat Abdee bisa tampil fit saja malam itu telah melegakan sekaligus mengobati banyak kerinduan Slankers yang membuncah saat slide gitarnya magis digesekkan.

Sebetulnya sebuah kisah tentang Slank lebih menarik jika ditarik ke belakang alias masa lalu mereka punya keseruan yang nostalgik dibanding sikap kompromis – main aman selama sepuluh tahun belakangan sonder naluri arak. Tapi masa lalu cuma tinggal kenangan, rentetan sejarah yang membentuk titian menuju masa depan.

Dan di luar kapasitasnya selaku band rock & roll terbesar negeri ini, kita dapat mengingat Slank sebagai 1) pionir kancah independen setelah pada tahun 1994 mendirikan Piss Records 2) biang kebebasan anak muda 3) penulis lagu giting terbaik – Poppies Lane Memory yang tercantum dalam album Tujuh 4) tidak bisa dipungkiri, penggerak massa terefektif sekaligus pemersatu bangsa 5) anak mami. Terbukti dari kehadiran selalu Bunda Iffet yang mengatrol sendi kehidupan Slank secara psikologi dan manajemen. Di malam 35 tahun itu Bunda didapuk naik panggung untuk memberi petuah seorang ibu – nenek agar kita selalu rendah hati dan meninggalkan kegiatan mabuk-mabukkan sebelum beliau didudukkan di singgasananya menyaksikan anak asuhnya memainkan lagu #1.

Selamat ulang tahun yang ke 35. Kamu Harus Pulang menjadi pengantar mengosongnya stadion termegah tempat tim nasional sepakbola Indonesia bolak balik kalah terus di kandang sendiri, dan saya terhimpit di antara cinta dan kekecewaan, memori masa lalu dan kenyataan hari ini atas tindak tanduk, cerita juga harapan terhadap Slank beserta keseimbangan di negeri ini. Bangsat, jadi tua itu ternyata membingungkan.

 

Penulis : Rio Tantomo

Editor : Antie Mauliawati

Fotografer : Yose Riandi