Bicara Musik

Catatan Kecil Perjalanan Amboro
  • By : admin
  • 15 January 2020

Catatan Kecil Perjalanan Amboro

Bicaramusik.id – Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan solois dalam kancah musik independen di Indonesia. Umumnya, solois tersebut bernyanyi dibarengi gitar akustik. Bagi sebagian generasi muda, solois tersebut kerap diidentikan dengan istilah solois folk. Sebagian orang mencibir stereotipe  folk yang biasanya mengusung tema kopi dan senja, sebagiannya lagi tak mempermasalahkan hal tesebut sebagai kebebasan berekspresi.

Dari sekian banyak musisi yang mencuat kepermukaan, salah satunya ialah Amboro. Pria yang bernama asli Dimas Amboro ini sudah dua tahun terakhir malang melintang dalam panggung-panggung musik, baik dalam skala kecil maupun festival besar seperti Soundrenaline dan We The Fest di tahun 2019.

Mengusung tema sehari-hari dan menghibur, Amboro membuktikan bahwa dia merupakan bintang yang siap melejit.

Jika dijejerkan dengan banyak solois baru yang muncul, lagu-lagu Amboro mudah mendapat tempat bagi para pendengarnya. Hal ini tak berlebihan dikarenakan Amboro mengusung tema yang dekat dengan keseharian yang dipadukan dengan lekuk lidah yang khas nan meghibur.

Salah satu contohnya, jika mendengar lagu Amboro berjudul “Nonton Konser”, pendengar akan dibawa ke nuansa seperti lagu yang diciptakan Benyamin Sueb, “Nonton Bioskop” contohnya. Saat ditanyai hal tersebut, Amboro mengakui bahwa budaya Betawi secara tidak langsung memengaruhinya dalam setiap karya yang dia ciptakan.

Kendati demikian, dalam penggarapan instrumen (seperti pada “Amsani” dan “Nonton Konser”), tak terdengar pengaruh musik Betawi di setiap lagu yang diciptakan. Amboro memainkan musik modern yang dimainkan sendiri lewat gitar akustiknya. “Ya gimana, mau ngeband tapi ribet. Lo dengar aja lagu “Nonton Konser”, itu kan ada dus tas dus tas, karena enggak ada pemain drum aja,” ujar Amboro saat ditanya keputusannya menjadi solois.

Setelah menjalani “ibadah musikal” sebagai solois kurang lebih selama dua tahun, Amboro akhirnya bisa bernafas lega. Karya-karya yang ia ciptakan akhirnya menyatu menjadi sebuah album berjudul Sumber Rezeki yang berisikan sembilan lagu yang akan dirilis dalam bentuk fisik dan digital.

Selain itu, album yang dipersembahkan oleh Padepokan Sarang laba ini juga diproduseri oleh Dado Darmawan, Reza Hilmawan, dan Amboro sendiri. Sumber Rezeki akan dirayakan secara khidmat pada Senin, (23/12) di Earhouse, Pamulang, Tangerang Selatan.

“Tenang batin gue, rasanya lega banget kayak melahirkan,” canda Amboro setelah albumnya dirilis. Amboro mengenang perjalanannya di musik yang sudah malang melintang. Ia pernah, bersama kawan-kawannya, membentuk band mulai dari awal tahun 2000-an, tapi mimpinya menjadi anak band harus kandas.

Selain itu, untuk mememuhi kebutuhan hidupnya, Amboro menjadi penyanyi band kafe yang membawakan lagu-lagu orang. Namun, atas semua yang dijalaninya dahulu, tak ada satu pun yang Amboro sesalkan. Semua menjadi proses yang membentuk kepribadian Amboro. “Ya gue sempat main reguleran di kafe dan nyanyiin musik pop. Semuanya harus gue lewatin, bagian dari perjalanan kehidupan,” kata Amboro.

Tarik ke belakang, sejak kecil musik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Di Sekolah Dasar, Amboro kecil sudah mendengarkan  musik rock seperti Bon Jovi dan ACDC. Menjelang remaja, wawasan Amboro soal musik makin berkembang dan mendengarkan musik yang lebih variatis seperti rock alternatif.

Musik yang didengarnya sejak kecil itu pula yang membentuk karaktek Amboro sekarang. “Ketika musik lo dengar dan ulangi lagi, dia akan menstimulus lo dalam membuat notasi dalam lo membuat karya,” paparnya.

Amboro benar. Jika menyimak salah satu lagunya bertajuk “Amsani”, akor gitar yang Amboro mainkan begitu sarat dengan unsur rock alternatif, atau bahkan grunge.

Pengalaman mendengarkan musik yang variatif ditambah tuntutan untuk menyanyi di kafe, secara tidak langsung, membentuk pemahaman Amboro dalam membuat musik. Amboro memadukan minatnya dengan banyak telinga para pendengar lewat musik yang ia buat. Jadi dapat diambil kesimpulan, lagu-lagu Amboro mudah diterima pendengar akan tetapi lagunya bukan lagu receh yang acap kita degar di pasaran.

Kendati sudah menelurkan album, perjalanan Amboro sebagai musisi sebenarnya baru dimulai. Menarik untuk menyimak langkah Amboro ke depan. Tentu saja, sebagai musisi, Amboro harus tetap berproses dan tak cepat merasa puas. Semoga beruntung.

 

Penulis: Rio Jo

Editor: Abyan Nabilio