Bicara Musik

“Apa Kabar Bandung?”
  • By : admin
  • 11 June 2021

“Apa Kabar Bandung?”

Bicaramusik.id – Tanya mereka di luaran dan bahkan beberapa tetua lokal mengenai di mana batang hidung kehidupan kreatif Bandung, terutama musik. Kalau tidak tercemplung di dalam kancahnya, sulit memang melewati telunjuk saat menghitung nama band asal Kota Kembang dengan jari tangan.

Masalahnya di mana? Belum ada yang tahu pasti. Padahal, kalau dihitung ya…, band banyak, pergerakan tentu ada, berkolektif ya masih jalan begitu saja. Jadi kenapa ya pertanyaan tadi sering muncul dalam beragam bentuk? Bingung kan?

Beberapa yang bertanya mengangkat masalah berjejaring, berkolektif lah sebut saja. Untuk hal tersebut, Bandung sebenarnya masih seru (dengan catatan 2020-2021 dilewat). Pada pertengahan 2010-an (karena katanya tidak terlihat sepanjang dekade terakhir), akhir pekan di Bandung tidak pernah sepi dari bervolume-volume acara –yang sebut saja- kolektif dengan segala kenakalan remaja di dalamnya. Hal ini lumayan berpengaruh nampaknya, karena pemodal yang biasanya (rokok) membikin panggung be-rigging dibantu EO mulai membuat panggung-panggung satu PA cukup dengan bantuan kelompok anak muda dengan tambahan “kolektif” di belakang nama mereka.

Jadi, entah bermodal atau tidak,band-band Bandung punya lumayan banyak wadah dekade kemarin. Biarpun di akhir agak sepi, tapi tidak bisa dibilang kosong. Bukti paling besarnya mungkin ada di Festival Kampung Kota (FKK).

Festival tersebut dilaksanakan dua kali, November-Desember 2017 dan Agustus-September 2019 (lumayan jika tidak sama sekali jauh dari zaman Saparua).  FKK1 dan FKK2 diselenggarakan sebagai respons dari penggusuran wilayah Tamansari oleh pemerintah kota. Di sisa reruntuhan Tamansari, penduduk Bandung dari cakupan kalangan yang luas melakukan berbagai kegiatan seperti pameran, diskusi, dan pemutaran film di hari kerja dan panggung musik di akhir pekan sepanjang hampir satu bulan. Kalau dicoba hitung dengan jari, pengisi panggungnya tidak akan cukup biarpun jari kaki digunakan.

Godplant, Lizzie, Bananach, Taruk, Krauff, Succubus, Amigdala, Wangi Gitaswara, Kwaag, Zanzibar Opera, The Panturas, Smiling Sunshine, El Karmoya, Taring, Jeruji, Alzheimergrind, Alone at Last, Rand Slam, Krowbar, Bottlesmoker, Tuan Sendiri, Feel Koplo. Nama-nama lintas generasi tersebut kira-kira yang bisa dilihat di daftar pengisi acara FKK2 di tahun 2019. Banyak bukan?

Selain itu, beberapa kolektif terkait musik Kota Kembang ditunjuk sebagai penanggung jawab panggung tiap pekan secara bergantian. Mereka antara lain adalah Teras Kolektif, Nutingret, Rumah Kultur, Ruang Tamblong, dan 6.30.

Di luar nama-nama di atas, Bandung juga diramaikan beberapa nama lain seperti Ash Shur, CJ1000, Blue House, The Schuberts, White Chorus, Manner House, Serikat Idola Remaja, Erratic Moody, Heals, Bitzmika, Brigade of Crow, Ikkubaru, . Banyak bukan? Banyak lah ya dan itu belum semua.

Biarpun tidak semua dari mereka menyebutkan nama Bandung tiap manggung, sepertinya tidak ada yang keberatan menjawab “iya” jika mereka ditanya “apakah kalian dari Bandung?”.

Dua tokoh yang sempat mengajukan pertanyaan semacam di judul adalah Oomleo dan Ardhito Pramono. Dalam sebuah bincang-bincang dalam jaringan, mereka berdua membahas panjang lebar di mana band-band Bandung hari ini. Dua episode bincang-bincang tersebut lumayan baik untuk dijadikan pendahuluan. Keduanya mengundang beberapa tokoh yang melihat kondisi berkesenian Bandung sekarang dari kaca mata luar, Marine Ramdhani (gegedug era sebelumnya lewat FFWD Records), Asep Balon (pentolan Majalaya yang dekat Bandung itu), Alvin Yunata (dulu tinggal di Bandung), dan Rico Prayitno (dulu tinggal di Bandung). Ini pendahuluan yang baik tapi akan menjadi isi yang buruk jika isinya memang hanya dua episode itu saja dan makin buruk jika episode-episode selanjutnya membahas hal yang tidak jauh beda.

Beberapa pihak agak tergelitik dengan perbincangan tersebut. Tidak (atau belum) ada pelaku langsung kancah termutakhir Bandung yang diundang. Selain itu, terlalu banyak semacam “kalau dulu” dan “kalau zaman gue” di  perbincangan tersebut. Padahal, pihak-pihak tergelitik itu merasa melakukan cara-cara yang hampir sama dari pendahulu mereka dan Bandung ya begitu-begitu saja. Untuk membuktikan keberedaannya, mereka pun menyelenggarakan Records Day Out pada 6 Mei. Beberapa band membuka lapakan-lapakan kecil di kawasan Lodaya. Unit ska punk, Hockey Hook dengan Watch Your Mind versi kasetnya, orator demo, Single Drop dengan Mungkar, dan one man band rock n roll bodo amat, The Battlebeats (Andresa Nugraha) dengan versi vinil 12” Search and Destroy.

Kalau tahunya seperti itu, menjawab pertanyaan “sebutkan lima band asal Bandung” mungkin akan lebih gampang dari pada menjawab pertanyaan pilihan ganda ujian matematika kelas 1 SMP.

Oh oh mungkin masalahnya adalah adakah di antara nama-nama bejibun tadi yang muncul ke permukaan.Eh eh permukaan yang mana dulu ya? Permukaan yang banyak digit di belakang K atau M di insight followers? Permukaan papan iklan? Permukaan laman media? Atau permukaan yang digelimangi harta? Untuk yang terakhir biarkan lah Tuhan, panitia acara, dan personel yang paham karena terlalu pribadi. Untuk yang kedua terakhir, sepertinya kalau mereka rajin menulis siar pers, di hari-hari sepi berita, sejelek-jeleknya karya mereka bisalah sekali dua muncul.

Untuk masalah followers, musisi-musisi Kota Kembang nampaknya banyak yang bisa bersaing. Wajah dari nama-nama ini, Rahmania Astrini, dr. Indah Kusuma, Bintan Radhita,  mungkin sering muncul di laman explore Anda. Jalan yang mereka jajaki mungkin berbeda dibanding banyak musisi di atas, tetapi karya mereka  laku secara digital.

Permukaan papan iklan memang sulit untuk ditembus. Permasalahan sulit menjadi guest star di kota sendiri bukanlah milik Bandung sendiri. Kunto Aji lagi, Hindia lagi, Pamungkas lagi, Ardhito lagi, Nadin lagi, Pamungkas lagi, Hindia lagi. Beberapa berpikir harus melalui Jakarta dulu untuk mencapai permukaan yang ini dan itu bisa jadi benar.

Tim Bicara Musik pernah mengulas tipis masalah ini saat membahas band asal Lampung, MRNMRS. Trio jazz-jazzan itu mengaku sulit sekali menjual diri bahkan di rumah sendiri. Pilihan terbaik dan terbanyak mereka adalah menjadi pembuka acara bersponsor ber­-guest star musisi-musisi dari –menggunakan istilah mereka- Jawa, yang kebanyakan hari ini dari (atau punya paparan) Jakarta Jakarta lagi.

Di Purwokerto pun begitu. Dalam episode pertama podcast berjudul S.O.S. Zacky Mochammad dari Heartcorner Collective yang mengurusi beberapa band di sana mengaku penyelenggara lokal berani membayar band luar kota dengan harga penuh sedangkan melakukan penawaran tidak masuk akal kepada band lokal. Kedua kejadian tadi terasa seperti anak baru lulus kuliah yang menemukan hanya ada lowongan yang butuh pengalaman kerja minimal setahun di dunia ini.

Dari berbagai aspek termasuk musik-musikan, sentralisasi Jakarta sepertinya sudah mengesalkan sejak dulu. Namun, Bandung di masa jayanya berhasil lepas dari hal tersebut. Itu merupakan sebuah prestasi sekaligus menimbulkan beban semu bagi generasi penerus.

Jadi, nampaknya permasalahannya bukan ada atau tidaknya band di Bandung. Permasalahannya mungkin ada pada penyelenggara acara yang lebih tertarik mengundang band yang sudah dari sananya bisa menarik penonton. Mungkin juga dari tidak ada media musik hari ini yang saking sebagainya sampai-sampai semua orang berpikir kalau sudah diulas di sana pasti band keren. Mungkin juga bandnya sendiri belum menemukan bentuk manajemen yang baik untuk jualan. Atau mereka memang tidak peduli dengan hal-hal duniawi.

Nah, buat kalian jangan sampai ketinggalan berita terbaru dan profil musisi favoritmu di website Bicara Musik, ya!

 

Penulis: Abyan Nabilio